CEO Netflix Ted Sarandos Sindir Film Bioskop: "Jangan Paksa Penonton Nonton Cara Lama"

CEO Netflix Ted Sarandos Sindir Film Bioskop: "Jangan Paksa Penonton Nonton Cara Lama"
- (Dok. Getty Images).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Co-CEO Netflix, Ted Sarandos, menanggapi isu pelik soal perubahan besar di industri hiburan dengan pernyataan tegas, "Kami tidak menghancurkan Hollywood. Kami justru menyelamatkannya."

Dilansir dari Variety, ucapan ini ia sampaikan dalam sesi wawancara bersama Pemimpin Redaksi Time Magazine, Sam Jacobs, dalam acara Time100 Summit yang digelar Rabu, (24/4) di New York.

Wawancara tersebut langsung menyentuh akar permasalahan industri film saat ini, yakni penurunan produksi, lesunya box office global, dan krisis transisi model distribusi film. Menurut Sarandos, tren penurunan jumlah penonton di bioskop justru menjadi sinyal kuat bahwa konsumen kini lebih memilih menonton dari rumah.

"Apa yang sedang disampaikan konsumen kepada kita? Bahwa mereka lebih suka menonton film dari rumah, terima kasih. Studio dan bioskop sedang bertarung mempertahankan jendela tayang 45 hari yang sudah tidak relevan dengan pengalaman penonton masa kini," ujar Sarandos.

Meskipun demikian, Netflix bukan sepenuhnya anti-bioskop. Perusahaan ini memiliki dan mengoperasikan dua teater ikonik: Bay Theater di Los Angeles dan Paris Theater di New York. Namun, menurut Sarandos, tujuan utama Netflix bukan menyelamatkan industri bioskop, melainkan "menyelamatkan pengalaman menonton di bioskop."

Netflix juga tetap memberikan perilisan terbatas di bioskop untuk film-film yang ditargetkan masuk ke ajang penghargaan, seperti Glass Onion (2022) dan Emilia Pérez (2024).

"Kami lakukan rilis khusus ini untuk keperluan kualifikasi Oscar dan juga membantu siklus promosi. Tapi saya selalu dorong setiap sutradara untuk fokus pada penonton. Buatlah film yang disukai penonton, dan mereka akan membalasnya," jelas Sarandos.

Ia menekankan bahwa saat ini industri film tengah berada dalam masa transisi.

"Dulu orang bermimpi membuat film yang diputar di layar lebar, di hadapan orang-orang asing, selama dua bulan di bioskop dengan pertunjukan yang selalu sold out. Tapi itu konsep yang sudah usang," tambahnya.

Ketika ditanya apakah membuat film khusus untuk bioskop dan pengalaman menonton bersama adalah gagasan yang sudah tidak relevan, Sarandos menjawab, "Saya pikir iya, untuk kebanyakan orang. Jika Anda tinggal di Manhattan dan bisa berjalan kaki ke bioskop, itu menyenangkan. Tapi sebagian besar masyarakat tidak bisa melakukannya."

Meskipun Sarandos mengaku mencintai bioskop, ia menegaskan bahwa penurunan eksistensinya tidak membuatnya khawatir.

"Yang membuat saya khawatir adalah jika orang berhenti membuat film bagus," ujarnya.

Sarandos menekankan bahwa Hollywood tidak boleh terjebak dalam pola pikir lama yang mengutamakan bioskop, melainkan harus beradaptasi dengan kebiasaan dan preferensi baru penonton.

"Jangan sampai kita memaksa penonton menonton film dengan cara yang kita inginkan, bukan cara yang mereka pilih."

Dalam sisa waktu wawancara, Sarandos juga sempat ditanya soal isu politik dan kepemimpinan industri. Ketika diminta memilih antara memimpin Saturday Night Live atau Disney, Sarandos menjawab cepat, "SNL." Namun ia mengaku tidak tahu siapa yang layak menggantikan CEO Disney saat ini, Bob Iger.

Wawancara ditutup dengan kutipan ikonik dari Jeff Bewkes, mantan CEO Time Warner, yang pada 2010 pernah mengecilkan Netflix dengan menyebut perusahaan itu seperti "tentara Albania yang ingin menguasai dunia." Saat ditanya bagaimana ia akan membalas ucapan itu sekarang, Sarandos tersenyum dan menjawab, "Saya akan mengatakannya dalam bahasa Albania kalau bisa."


 

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE