Microsoft Klaim Temukan Terobosan Pendingin Chip AI, Tiga Kali Lebih Efektif dari Cara Lama

Microsoft Klaim Temukan Terobosan Pendingin Chip AI, Tiga Kali Lebih Efektif dari Cara Lama
- (Dok. The Decoder).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Teknologi AI memang rakus energi, dan salah satu tantangan terbesarnya ada di pendinginan chip. Pendingin GPU yang dipakai di pusat data saat ini masih menyumbang beban listrik besar, sekaligus menghasilkan emisi gas rumah kaca. Karena itu, klaim terbaru Microsoft soal terobosan pendingin chip AI jadi sorotan.

Microsoft mengembangkan sistem pendingin berbasis microfluidics, teknologi yang sudah lama diteliti tapi sulit diwujudkan. Perusahaan menyebut pendekatan ini bisa menghasilkan pendinginan hingga tiga kali lebih efektif dibanding metode konvensional.

Mayoritas pusat data saat ini masih mengandalkan cold plate, yaitu pelat pendingin yang dipasang di atas chip. Meski cukup efektif, pelat ini tetap terpisah beberapa lapisan dari sumber panas sehingga performanya terbatas. "Kalau lima tahun lagi kita masih bergantung pada cold plate, kita bakal tertinggal," ujar Sashi Majety, program manager Microsoft.

Bedanya dengan cold plate, sistem microfluidics membawa cairan pendingin lebih dekat ke sumber panas. Dalam prototipe Microsoft, cairan mengalir melalui saluran mikro mirip benang yang diukir langsung di bagian belakang chip. AI juga digunakan untuk mengatur aliran cairan agar lebih efisien.

Uniknya, desain sistem ini terinspirasi dari alam. Pola saluran pendingin menyerupai urat daun atau sayap kupu-kupu. Hasilnya, Microsoft mengklaim suhu maksimum silikon di dalam GPU bisa ditekan hingga 65 persen lebih rendah-tentu tergantung beban kerja dan jenis chip.

Manfaatnya bukan hanya chip yang lebih dingin. Pendingin ini bisa memungkinkan overclocking tanpa risiko chip meleleh, membuat server bisa dipasang lebih rapat untuk mengurangi latensi, bahkan memanfaatkan panas buangan dengan kualitas lebih tinggi.

Meski terdengar ramah lingkungan, Microsoft dalam blog resminya lebih banyak menekankan keuntungan performa dan efisiensi. Aspek "hijau" hanya disebut sekilas dalam konteks keberlanjutan dan pengurangan beban jaringan listrik. Padahal, kalau teknologi ini benar-benar berhasil, dampaknya bisa jauh lebih besar bagi planet yang sedang terdesak krisis iklim.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE