Jepang dan Korea Selatan Dilanda Gelombang Panas Ekstrem, Suhu Pecahkan Rekor Sejarah
JAKARTA, GENVOICE.ID - Jepang dan Korea Selatan tengah menghadapi gelombang panas terburuk dalam sejarah modern mereka. Otoritas di kedua negara mengeluarkan peringatan darurat kepada masyarakat agar waspada terhadap risiko heatstroke, sementara rumah sakit dipadati pasien yang mengalami gangguan kesehatan akibat suhu ekstrem.
Pada Rabu (30/7), suhu di Jepang mencapai 41,2 derajat Celsius di Tamba, Prefektur Hyogo - menjadikannya hari terpanas yang pernah tercatat di negara tersebut. Menurut Badan Meteorologi Jepang, suhu lebih dari 35 derajat tercatat di 271 dari 914 titik pengamatan di seluruh negeri, dengan 39 lokasi mencatat rekor baru.
Rekor sebelumnya, yaitu 41,1 derajat, tercatat di Hamamatsu, Shizuoka pada Agustus 2020 dan Kumagaya, Saitama pada Juli 2018. Panas ekstrem kali ini didorong oleh sistem tekanan tinggi yang membawa cuaca cerah dan udara terik di berbagai wilayah.
Sementara itu, Korea Selatan mencatat rekor baru berupa 22 hari berturut-turut suhu malam hari di atas 25 derajat Celsius, fenomena yang dikenal sebagai "tropical nights". Ini adalah rangkaian malam terpanas terpanjang sejak pencatatan modern dimulai pada 1907. Pada Rabu malam, suhu minimum di Seoul bahkan hanya turun hingga 29,3 derajat, menjadikannya malam Juli terpanas sepanjang sejarah kota itu.
Direktur Divisi Prakiraan Meteorologi Seoul, Youn Ki-han, menjelaskan bahwa udara panas dari sistem North Pacific High telah datang lebih awal dari biasanya, menyebabkan suhu tinggi yang bertahan selama beberapa hari tanpa sempat mereda. "Panas yang terus berlangsung menumpuk setiap harinya dan tidak sempat menghilang," ujarnya.
Gelombang panas ini menjadi ancaman serius bagi populasi lansia di kedua negara. Di Korea Selatan, 13 orang dilaporkan meninggal dunia akibat dugaan serangan panas sepanjang tahun ini-tiga kali lipat lebih banyak dibanding periode yang sama tahun lalu. Sedangkan di Jepang, lebih dari 10.800 orang telah dilarikan ke rumah sakit akibat penyakit terkait panas, lebih dari separuh di antaranya berusia di atas 64 tahun. Tercatat 16 kematian dalam sepekan terakhir hingga 21 Juli, menurut Badan Penanggulangan Bencana Jepang.
Lonjakan suhu ekstrem ini menjadi bukti nyata krisis iklim global. Jepang mencatat musim panas terpanasnya pada tahun lalu, disusul dengan musim gugur terhangat dalam 126 tahun terakhir. Suhu di Kyoto pun mencapai 40 derajat Celsius untuk pertama kalinya, sebuah kota yang pada 2023 mencetak rekor kunjungan wisatawan asing sebanyak 10,88 juta orang.
Fenomena ini menyoroti dampak perubahan iklim yang semakin nyata, memperparah frekuensi dan intensitas bencana cuaca ekstrem dari gelombang panas hingga banjir dan kebakaran hutan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!