Google Sangat Antusias Bantu OpenAI Latih ChatGPT, Meski Bisa Jadi Ancaman Terbesar untuk Fitur Search
JAKARTA, GENVOICE.ID - CEO Google Sundar Pichai menyatakan bahwa dirinya "sangat antusias" menjalin kerja sama dengan OpenAI, yang justru merupakan pesaing terbesar Google dalam bidang kecerdasan buatan (AI), untuk menyediakan layanan komputasi awan (cloud) guna melatih dan menjalankan model AI seperti ChatGPT.
Dilansir dari Tech Crunch, pernyataan ini disampaikan dalam panggilan pendapatan kuartal kedua Google pada Rabu waktu setempat, dan menjadi sorotan karena terjadi di tengah persaingan panas dalam pengembangan teknologi AI.
"Sehubungan dengan OpenAI, kami sangat senang bisa bermitra dengan mereka di Google Cloud. Google Cloud adalah platform terbuka, dan kami punya sejarah panjang dalam mendukung perusahaan-perusahaan hebat, startup, dan laboratorium AI. Kami sangat bersemangat dengan kemitraan ini di sisi cloud dan berharap bisa terus memperkuat dan mengembangkan hubungan ini," ujar Pichai."
Pernyataan tersebut muncul setelah para analis melontarkan sejumlah pertanyaan kepada eksekutif Google, terutama soal bagaimana kehadiran AI, khususnya ChatGPT dapat memengaruhi bisnis utama Google di sektor pencarian (Search), serta alasan di balik tambahan belanja modal Google sebesar $10 miliar tahun ini untuk mengejar ketertinggalan dalam perlombaan AI global.
Sudah lebih dari dua tahun sejak ChatGPT pertama kali diluncurkan, dan sejak saat itu, Google telah mengalihkan fokus besar-besaran ke pengembangan model AI terdepan dan produk-produk berbasis AI guna bersaing langsung dengan OpenAI, yang kini menjadi pemimpin pasar.
Menariknya, meski ChatGPT menjadi ancaman terbesar bagi Google Search, OpenAI justru menjadi pelanggan besar baru bagi Google Cloud, menandai hubungan yang penuh dilema: OpenAI mungkin saja menggunakan infrastruktur dan chip milik Google untuk menciptakan produk yang dapat menggeser dominasi Google di bisnis pencarian online.
Sebagai informasi, OpenAI diam-diam memasukkan Google Cloud ke dalam daftar resmi penyedia layanan cloud mereka, berdampingan dengan Microsoft dan Oracle. Kabar ini sebelumnya telah dilaporkan oleh Reuters pada Juni, yang menyebut bahwa OpenAI tengah mempertimbangkan Google Cloud untuk tambahan daya komputasi.
Google Cloud mencatat lonjakan pendapatan signifikan di kuartal kedua 2025, mencapai 13,6 miliar dolar AS, naik dari 10,3 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu. Google menyebut pertumbuhan ini didorong oleh permintaan besar dari perusahaan AI, termasuk OpenAI.
Meskipun Google Cloud masih tergolong kecil dibanding bisnis Search, unit ini tumbuh cepat di era AI, berkat kebutuhan yang sangat besar akan daya komputasi dari berbagai laboratorium AI global. Beberapa di antaranya adalah Anthropic, Safe Superintelligence (dipimpin oleh Ilya Sutskever), World Labs milik Fei-Fei Li, dan kini OpenAI.
Menurut Pichai, Google memenangkan banyak kerja sama besar karena tersedianya chip GPU Nvidia dalam jumlah besar dan juga chip internal mereka, yaitu TPU (Tensor Processing Unit), yang menjadi andalan dalam proses pelatihan model AI besar.
Salah satu alasan utama OpenAI menjalin kerja sama dengan Google adalah keterbatasan pasokan GPU Nvidia yang mereka hadapi melalui mitra utama mereka, Microsoft. Karena permintaan yang sangat tinggi, OpenAI dipaksa mencari alternatif, dan Google Cloud menjadi pilihan strategis untuk mengimbangi kekurangan tersebut.
Meski hubungan dengan OpenAI terus berjalan, Google juga mengumumkan perkembangan positif dari lini produk AI-nya. Chatbot Gemini kini memiliki 450 juta pengguna aktif bulanan, sementara fitur AI Overviews telah menjangkau 2 miliar pengguna bulanan. Namun, belum jelas seberapa besar kontribusi finansial dari produk-produk ini atau sejauh mana mereka mulai menggantikan trafik dari pencarian konvensional Google.
Meskipun Pichai menunjukkan antusiasme tinggi, banyak pihak melihat kemitraan ini sebagai sesuatu yang penuh risiko. Banyak yang mengibaratkannya seperti Google saat masih menjadi startup, yang dulu menggunakan Yahoo sebagai batu loncatan, sebelum akhirnya menyalip dan menggeser Yahoo sebagai gerbang utama ke internet. Kini, posisi itu mungkin diincar oleh OpenAI terhadap Google.
Sejauh mana hubungan Google dan OpenAI akan bertahan, masih menjadi tanda tanya besar. Namun satu hal jelas, dalam dunia AI, bahkan raksasa teknologi seperti Google pun harus bermitra dengan pesaingnya, atau tertinggal.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!