Dominasi Oligarki Harus Segera Dihentikan
JAKARTA - Pengamat Ekonomi dari STIE YKPN Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko mengapresiasi tekad Presiden RI Prabowo Subianto untuk mengakhiri dominasi oligarki, dimana hanya segelintir elite yang menguasai kekayaan nasional.
"Presiden tidak ingin ekonomi kita dikendalikan oleh kelompok kecil yang memiliki kekuasaan besar atas modal, kebijakan, dan sumber daya alam. Beliau menegaskan bahwa praktik oligarki semacam itu harus dihentikan," kata Aditya kepada Koran Jakarta, Senin (23/6).
Menurut Aditya, segelintir elite dalam pernyataan tersebut adalah kelompok tertentu yang menjalankan kekuasaan politik dan ekonomi atau oligarki, yakni mereka yang tidak hanya memiliki usaha besar, tetapi juga ikut menentukan arah kebijakan pemerintah demi kepentingan kelompoknya.
"Di negara maju, pengusaha besar tetap ada, tapi tidak boleh mengatur negara. Yang ingin diakhiri Presiden adalah sistem oligarki, bukan semua perusahaan besar, karena negara butuh dunia usaha," kata Aditya.
Salah satu bentuk nyata dominasi oligarki, adalah penguasaan impor komoditas strategis hanya oleh satu atau dua entitas besar. "Impor gandum dan gula misalnya, selama ini hanya bisa diakses oleh segelintir pihak. Itu yang membuat ekonomi rakyat tidak tumbuh, karena semua saluran distribusi dikuasai," katanya.
Pengaruh kelompok oligarki itu juga terlihat di sektor jasa keuangan dengan mengendalikan fungsi intermediasi perbankan sebagai jantung perekonomian. Bank dalam menyalurkan kredit terjadi ketimpangan, di mana sebagian besar dana justru mengalir ke sektor yang tidak menyentuh kepentingan rakyat.
"Bank lebih suka menyalurkan kredit ke proyek elite seperti pembangunan mal, yang 80 persen barangnya impor. Padahal sektor riil rakyat jauh lebih butuh pembiayaan," ujarnya.
Jika dibandingkan dengan negara lain semisal Amerika Serikat (AS) dengan sistem ekonomi liberalisme, pemerintah masih sangat kuat dalam mengontrol perekonomian. Presiden AS, Donald Trump misalnya melakukan pendekatan yang tegas terhadap dominasi pasar.
"Trump bersahabat dengan Elon Musk, tapi tetap mencabut insentif Tesla. Ia juga mengenakan tarif impor pada Amazon dan Walmart karena dinilai merugikan industri nasional AS. Prinsipnya jelas, kalau tidak menguntungkan negara, maka harus dibatasi," katanya.
Aditya berharap Indonesia harus berani menerapkan prinsip serupa. "Kalau barang impor disubsidi negara asal, dan kita malah memberi karpet merah pada importir dalam negeri, itu menandakan sistem kita keliru. Kita butuh keberpihakan pada produksi nasional, agar pertumbuhan ekonomi tidak semu, dan devisa bisa dihemat," paparnya.
Kekayaan Alam
Aditya mengingatkan pentingnya menjaga kekayaan alam dengan memperhitungkan dampak sosial dan ekologis dari eksploitasi yang tidak bertanggungjawab dan pengelolaan yang tidak berkelanjutan.
"Contohnya yang sekarang lagi geger di Raja Ampat sebagai kawasan tambang nikel. Pengalaman kita di tambang lain, setelah kekayaannya habis, yang tersisa hanyalah jurang tambang, rumah sakit jauh, begitu juga sekolah yang sulit diakses. Itu bukan pembangunan, itu penelantaran masa depan," katanya.
Peneliti Pusat Riset Pengabdian Masyarakat (PRPM) Institut Shanti Bhuana, Bengkayang, Kalimantan Barat, Siprianus Jewarut mengatakan kalau Jepang dan beberapa negara Eropa sebenarnya memiliki hutan, tetapi mereka tidak menebang dan lebih memilih mengimpor kayu dari negara lain untuk kebutuhannya. Begitu juga dengan tambang batubara, mereka tidak menggali karena mereka memelihara alam, bukan menghancurkannya.
"Mereka bukan tidak mau mineral, tetapi mereka memilih tidak menggali karena akan merusak lingkungan," katanya.
Di Indonesia, malah sampai wilayah pulau pun bergeser seperti empat pulau yang tadinya milik Aceh bisa berubah menjadi milik Sumut, karena ada tambang di sana.
Lebih lanjut dia mengatakan beberapa perusahaan AS banyak yang pindah ke luar negeri untuk mendapat sumber buruh murah. Makanya, oleh Pemerintah AS dikenakan tarif tinggi supaya pindah. Pengenaan tarif itu supaya industri di AS yang butuhnya mahal, bisa bersaing dengan produk impor yang dikenakan tarif tinggi.
"?Perushaaan besar diperlukan untuk bersaing global tapi bukan perusahaan yang mengekspor mineral, harus bernilai tambah. Itu yang dilakukan AS dan Jepang. Dia besarkan produk mereka untuk ekspor dunia. Bukan pakai barang impor untuk konsumsi nasional. Ekonomi kerakyatan harus dibela. Minimarket itu menyedot ekonomi desa," pungkasnya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!