Sutradara "Pelangi di Mars" Buka Suara soal Isu AI dan Tuduhan Buzzer, Ini Klarifikasi Upie Guava

Sutradara "Pelangi di Mars" Buka Suara soal Isu AI dan Tuduhan Buzzer, Ini Klarifikasi Upie Guava
- (Dok. Kaset).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Film "Pelangi di Mars" yang tayang saat libur Lebaran 2026 tengah menjadi perbincangan publik. Bukan hanya karena ceritanya yang unik, tetapi juga karena munculnya isu penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam proses produksi hingga tudingan pengerahan buzzer untuk promosi.

Menanggapi hal tersebut, sutradara Upie Guava akhirnya memberikan klarifikasi melalui media sosial. Ia menegaskan bahwa teknologi AI memang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan industri saat ini, termasuk dalam produksi film.

Menurutnya, berbagai perangkat yang digunakan dalam pembuatan "Pelangi di Mars" memang sudah mengandung teknologi canggih, termasuk AI. Namun, ia menekankan bahwa teknologi tersebut hanya menjadi alat bantu, bukan pengganti peran manusia.

Dalam proses produksinya, film ini menggabungkan berbagai metode seperti virtual production, extended reality (XR), motion capture, hingga penggunaan Unreal Engine. Meski demikian, seluruh proses kreatif tetap digerakkan oleh tim kreator yang terlibat sejak awal pengembangan proyek pada 2020.

Selain isu AI, keterlibatan RANS Entertainment juga ikut menjadi sorotan. Upie menjelaskan bahwa kolaborasi dengan perusahaan tersebut baru terjadi ketika film telah memasuki tahap akhir produksi.

Ia menyebut kerja sama itu berlangsung setelah proyek rampung lebih dari 80 persen dan masuk fase post-production, tepatnya dalam periode Mei hingga Desember 2025. Menurutnya, pola kolaborasi seperti ini merupakan hal yang umum dalam industri film, di mana berbagai pihak bergabung untuk menyelesaikan proyek dengan visi yang sama.

Terkait tudingan penggunaan buzzer untuk mendongkrak popularitas film, Upie membantah adanya strategi semacam itu. Ia menilai tidak ada cara instan yang bisa menggantikan keputusan penonton dalam menentukan keberhasilan sebuah film.

Baginya, hubungan antara film dan penonton seharusnya dibangun secara organik melalui pengalaman menonton yang jujur, bukan karena dorongan promosi sesaat.

Terlepas dari berbagai isu yang beredar, Upie melihat "Pelangi di Mars" sebagai langkah awal dalam mendorong perkembangan industri kreatif di Indonesia. Ia menyadari film tersebut masih memiliki kekurangan, namun tetap dianggap sebagai bagian dari proses menuju kualitas yang lebih baik.

Data terbaru menunjukkan film ini telah meraih lebih dari 85 ribu penonton sejak tayang perdana pada 18 Maret 2026. Ceritanya mengikuti perjalanan seorang anak bernama Pelangi, yang disebut sebagai manusia pertama yang lahir di Mars, dalam misi mencari Zeolit Omega untuk dibawa kembali ke Bumi.

Di tengah polemik yang muncul, "Pelangi di Mars" tetap menjadi salah satu film yang menarik perhatian publik, baik dari sisi teknologi maupun narasi yang diusung.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE