Konser 20 Tahun Centralismo SORE di TIM Bikin Banjir Air Mata: Momen Awan Garnida Hadirkan Terompet dan Mikrofon Mendiang Ade Paloh
JAKARTA, GENVOICE.ID - Siapa sih yang nggak kenal sama band indie legendaris SORE? Band yang punya warna musik unik dan lirik puitis ini baru saja sukses menggelar konser yang bener-bener emosional banget di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Bukan sekadar konser biasa, acara yang digelar pada Senin (22/12/2025) malam ini merupakan bentuk perayaan dua dekade sejak album debut mereka yang fenomenal, Centralismo, pertama kali menyapa telinga pecinta musik tanah air. Album yang rilis tahun 2005 itu emang punya tempat spesial di hati para penggemarnya, karena dianggap sebagai salah satu album alternatif terbaik yang pernah ada di Indonesia. Namun, suasana malam itu nggak cuma penuh dengan euforia selebrasi, tapi juga kental dengan rasa haru dan kerinduan yang mendalam. Gedung TIM seolah menjadi saksi bisu kematangan bermusik SORE sekaligus menjadi tempat reuni bagi para pendengar setianya dalam balutan atmosfer nostalgia yang begitu kental.
Gen, acara dibuka dengan sangat apik oleh penampilan dari Los Garelloz dan Tigapagi yang berhasil membangun suasana sebelum bintang utamanya naik panggung. Tepat pukul 21.28 WIB, para personel SORE pun muncul dan langsung menyapa penonton dengan lagu "Bebas" serta "Somos Libres". Energi yang mereka bawakan di atas panggung bener-bener luar biasa, bikin semua orang yang hadir merasa terhubung kembali dengan kenangan-kenangan lama. Awan Garnida, sang pembetot bass sekaligus vokalis, nggak bisa menyembunyikan rasa bahagianya malam itu.
"Betapa bahagianya kami di panggung ini, bisa berada di hadapan kalian semuanya untuk merayakan sebuah album bertajuk Centralismo bersama-sama," kata Awan Garnida di hadapan para penonton yang memenuhi teater.
Sepanjang malam, setlist konser ini bener-bener memanjakan telinga dengan lagu-lagu hits dari album Centralismo. Mulai dari lagu "Cermin", "Keangkuhanku", "Etalase", "Pergi Tanpa Pesan", hingga nomor favorit banyak orang, "No Fruits Today", dibawakan dengan aransemen yang matang. Namun, momen paling menyesakkan dada terjadi saat sesi penghormatan untuk mendiang Ade Firza Paloh, sang vokalis dan pendiri SORE yang sudah lebih dulu berpulang. Awan Garnida bersama pianis Adra Karim tampil secara khusus untuk mengenang sosok sahabat sekaligus rekan bermusiknya itu.
"Saya minta izin, hari ini saya ingin mengenang seolah dia masih berada di panggung bersama saya," ucap Awan dengan suara yang bergetar. Ia kemudian mempersembahkan lagu "Mata Berdebu" yang ditulis oleh almarhum. "Sebentar lagi, saya ingin menyembahkan sebuah lagu yang paling indah buat saya yang ditulis oleh Almarhum, yang sangat mendalam sekali, dan saya sangat mencintai lagu itu, dan saya benar-benar berharap dia ada bersama saya malam ini," lanjutnya.
Momen puncak kesedihan penonton memuncak saat Awan menunjukkan mikrofon dan terompet asli milik Ade Paloh yang sengaja diletakkan di atas panggung. Benda-benda ikonik itu seolah hadir mewakili kehadiran fisik Ade di malam perayaan 20 tahun album perdana mereka. "Ini adalah mikrofon dan terompet yang selalu dipakai sama Beliau di panggung," kata Awan sambil menunjuk ke arah alat musik tersebut. Konser ini akhirnya bukan cuma jadi ajang pamer musikalitas, tapi juga jadi ruang refleksi tentang perjalanan panjang dan ikatan persaudaraan yang tak akan pernah putus meski maut memisahkan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!