Terungkap, Tuduhan Pelecehan Lee Yi Kyung Marry My Husband Ternyata Palsu, Bukti Dibuat dari AI!

Aktor Lee Yi Kyung Bebas dari Isu Pelecehan Seksual; Penuduh Ngaku Bukti Vulgar Cuma Lelucon dan Produk Fake Image AI

Terungkap, Tuduhan Pelecehan Lee Yi Kyung Marry My Husband Ternyata Palsu, Bukti Dibuat dari AI!
Aktor Korea Lee Yi Kyung. - (Dok. Instagram @luvlk89).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Gen, dunia entertainment Korea Selatan baru saja diguncang plot twist mengejutkan. Kasus tuduhan pelecehan seksual yang menyeret nama aktor top Lee Yi Kyung (bintang Marry My Husband) ternyata hanyalah hoax besar yang dibuat menggunakan Artificial Intelligence (AI)!

Tuduhan yang sempat membuat publik geger itu kini gugur setelah sang penuduh, seorang perempuan berinisial A, mengakui segalanya. Pada Rabu, 22 Oktober 2025, A membuat pernyataan maaf di media sosial, mengungkapkan bahwa semua bukti yang ia sebar adalah palsu.

A mengakui bahwa ia memulai unggahan dengan niat "lelucon" saja, namun tak menyangka unggahannya akan viral.

"Baru-baru ini saya mengunggah berbagai foto terkait aktor Lee Yi Kyung. Saya mulai menulis unggahan itu hanya sebagai lelucon, dan tidak menyangka akan mendapat perhatian sebesar ini," tulis A melalui pernyataannya.

Hal yang paling mencengangkan adalah pengakuan A bahwa ia menggunakan AI untuk membuat foto-foto Lee Yi Kyung dan bahkan mulai percaya pada cerita rekaannya sendiri seiring dengan viralnya konten tersebut.

Pengakuan ini jelas menunjukkan bahaya penyalahgunaan teknologi AI untuk menyebarkan informasi palsu (fake news).

Sebelumnya, A sempat mengunggah tangkapan layar percakapan vulgar pada 19 Oktober 2025, yang dengan cepat menyebar dan merusak reputasi Lee Yi Kyung.

Namun, agensi Lee Yi Kyung, Sangyoung Entertainment, sejak awal sudah membantah keras tuduhan tersebut, bahkan menyebut A pernah melakukan aksi serupa dan meminta uang.

Dengan pengakuan ini, tuduhan pelecehan otomatis hilang. Kini, kasus ini berpotensi berbalik menjadi tuntutan pencemaran nama baik dan penyebaran kebohongan publik oleh agensi.

A sendiri menyatakan penyesalan mendalam dan siap bertanggung jawab secara hukum atas kegaduhan yang ditimbulkannya.

"Saya merasa bersalah. Jika ada yang harus saya pertanggungjawabkan, saya akan melakukannya," tutup A.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi kita semua dan pengguna media sosial lainnya mengenai pentingnya verifikasi informasi, terutama yang melibatkan foto atau bukti yang dibuat menggunakan AI. Jangan sampai fanatisme atau iseng berujung pada penyebaran hoax yang merugikan orang lain!

S
Sarah Ramadhani
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE