JAKARTA, GENVOICE.ID - Dua anak harimau benggala (Panthera tigris tigris) bernama Huru dan Hara dilaporkan mati di Bandung Zoo pada Maret 2026.
Keduanya masih berusia delapan bulan dan merupakan anak dari pasangan induk Sahrulkan dan Jelita yang lahir pada 12 Juli 2025.
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat memastikan bahwa kematian kedua satwa tersebut disebabkan oleh infeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV), yakni penyakit virus yang sangat menular dan memiliki tingkat kematian tinggi, terutama pada satwa dari keluarga kucing yang masih berusia muda.
Kasus ini bermula pada 22 Maret 2026 ketika Hara menunjukkan gejala penurunan aktivitas, muntah, dan diare. Dari pemeriksaan awal, tim medis menemukan adanya parasit cacing pada muntahan, sehingga langsung diberikan pengobatan berupa antiparasit, penurun asam lambung, serta vitamin. Sebagai langkah pencegahan, Huru yang berada dalam satu kandang turut diberikan perawatan dan keduanya dipisahkan untuk meminimalisir penularan.
Namun kondisi Hara terus memburuk. Ia mengalami diare disertai darah, dan hasil pemeriksaan rapid test dari sampel feses menunjukkan positif FPV. Meski telah mendapatkan penanganan intensif, Hara dinyatakan mati pada 24 Maret 2026. Hasil nekropsi menunjukkan adanya pendarahan masif pada saluran pencernaan serta kerusakan vili usus yang menjadi ciri khas infeksi virus tersebut.
Setelah itu, kondisi Huru juga menunjukkan gejala serupa. Tim medis dari berbagai instansi, termasuk dokter hewan BBKSDA Jawa Barat dan Rumah Sakit Hewan Provinsi Jawa Barat, melakukan penanganan intensif. Sempat melewati fase kritis dan menunjukkan tanda perbaikan, Huru akhirnya dinyatakan mati pada 26 Maret 2026. Pemeriksaan lanjutan kembali mengonfirmasi adanya pendarahan pada usus, luka pada lambung, serta hasil positif FPV.
Feline Panleukopenia Virus sendiri merupakan penyakit yang menyerang sel-sel yang aktif membelah, terutama pada saluran pencernaan, sehingga menyebabkan kerusakan mukosa usus secara masif. Penularannya dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, lingkungan yang terkontaminasi, maupun benda perantara. Pada satwa muda dengan sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna, penyakit ini dikenal sangat mematikan.
Menindaklanjuti kejadian ini, pihak BBKSDA Jawa Barat bersama pengelola Bandung Zoo akan memperketat langkah biosekuriti, termasuk melakukan disinfeksi lingkungan secara intensif, membatasi lalu lintas orang dan peralatan, serta meningkatkan pemantauan kesehatan satwa, khususnya karnivora dari famili Felidae.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!