Sosok DS Disorot! Dari Alumni LPDP Berprestasi hingga Kontroversi Paspor Inggris
JAKARTA, GENVOICE.ID - Nama Dwi Sasetyaningtyas mendadak menjadi perbincangan hangat di jagat maya.
Sosok yang akrab disapa Tyas atau DS itu menuai kontroversi setelah mengunggah konten yang memamerkan paspor Inggris milik anak keduanya.
Dalam unggahan di Instagram dan Threads, DS menuliskan kalimat yang kemudian memantik reaksi keras warganet. “Cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan paspor kuat WNA,” tulisnya. Pernyataan tersebut dinilai sebagian publik kurang bijak, mengingat DS merupakan mantan penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Meski DS menyebut unggahan itu sebagai ekspresi kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah, kritik telanjur bergulir. Polemik pun meluas, tak hanya membahas etika pernyataan di ruang publik, tetapi juga kembali menyoroti komitmen moral penerima beasiswa negara.
Di balik kontroversi tersebut, DS dikenal memiliki rekam jejak akademik yang mentereng. Ia merupakan alumnus Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), masuk pada 2009 dan lulus pada 2013 dengan IPK 3,34. Selama masa kuliah, ia aktif sebagai asisten laboratorium.
Pada 2015, DS meraih beasiswa LPDP angkatan PK-35 untuk melanjutkan studi magister di Delft University of Technology, Belanda, pada program Sustainable Energy Technology. Ia menyelesaikan studi pada 2017. Tesisnya membahas sistem solar photovoltaic (PV), dengan fokus pada model bisnis panel surya untuk elektrifikasi wilayah pedesaan terpencil, termasuk Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur.
Sebelum menempuh studi di Belanda, DS sempat berkarier di perusahaan multinasional P&G sebagai Customer Business Development Manager. Sepulangnya ke Indonesia, ia menjalankan masa pengabdian LPDP dan dikenal aktif di bidang lingkungan serta kewirausahaan sosial.
Pada 2018, DS mendirikan Sustaination, sebuah usaha yang bergerak di penyediaan produk ramah lingkungan. Ia juga terlibat dalam berbagai inisiatif sosial, mulai dari pengembangan komunitas keberlanjutan, penanaman mangrove, hingga program pemberdayaan masyarakat.
Sorotan publik turut merembet pada kehidupan pribadinya. DS kini menetap di Inggris mendampingi suaminya, Arya Pamungkas Iwantoro, yang bekerja sebagai konsultan riset. Sang suami diketahui juga merupakan alumni LPDP.
Berbeda dengan DS yang telah dikonfirmasi menuntaskan kewajiban masa pengabdian, suaminya dilaporkan masih dalam proses klarifikasi terkait dugaan belum menyelesaikan komitmen kontribusi di Indonesia. Pihak LPDP sebelumnya menyatakan akan melakukan pemanggilan untuk memastikan kepatuhan terhadap perjanjian beasiswa.
Kasus ini kembali memantik diskusi luas tentang tanggung jawab penerima beasiswa negara. LPDP sejak awal dirancang sebagai investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia unggul, yang tak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga integritas dan komitmen terhadap kontribusi bagi Indonesia.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!