Dibantai di Set Pertama, Iga Swiatek Bangkit dan Menang Lewat Drama 3 Set!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Iga Swiatek kembali membuktikan bahwa ia bukan sekadar petenis berbakat, tapi juga juara sejati yang tak pernah menyerah, kenapa tidak? dalam pertarungan dramatis berdurasi 2 jam 41 menit, Swiatek bangkit dari ketertinggalan satu set untuk menaklukkan Ekaterina Alexandrova dengan skor 1-6, 7-6(3), 7-5 dan meraih gelar ketiganya musim ini sekaligus gelar ke-25 dalam karier profesionalnya.
Meski secara statistik nyaris kalah telak, Swiatek menunjukkan bahwa mentalitas bertahan dan fokus di saat-saat krusial jauh lebih menentukan ketimbang angka di atas kertas. Kemenangan ini memperkuat rekor Swiatek di partai final dengan catatan mengesankan 25 kemenangan dari 30 final di ajang WTA.
"Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat kepada Ekaterina atas pekan yang luar biasa dan final yang luar biasa. Sejujurnya, saya tidak tahu bagaimana saya bisa menang karena kamu bermain hebat, dan saya hanya berusaha untuk tetap bertahan," ujar Swiatek saat penyerahan trofi.
Ungkapan itu bukan basa-basi. Di set pertama, Swiatek benar-benar dipukul mundur oleh permainan agresif Alexandrova, yang hanya butuh 30 menit untuk menang 6-1. Petenis Rusia itu tampil nyaris tanpa cela, mematahkan servis Swiatek di gim pembuka dan tidak memberi ruang untuk bangkit.
Namun seperti juara sejati, Swiatek mulai membalikkan keadaan sejak awal set kedua. Ia mematahkan servis Alexandrova lebih dulu, meskipun lawannya langsung membalas. Saling balas memegang servis berlangsung hingga tiebreak, di mana Swiatek akhirnya tampil dominan untuk pertama kalinya, menguasai poin demi poin dan menutup tiebreak 7-3.
Di set ketiga, drama semakin memuncak. Swiatek sempat tertinggal setelah melakukan tiga kesalahan ganda dalam satu gim yang membuatnya kehilangan servis. Tapi ia kembali bangkit, menyamakan skor, lalu memimpin untuk pertama kalinya di pertandingan.
Tekanan mulai berpindah ke Alexandrova. Saat harus mempertahankan servis untuk tetap hidup dalam pertandingan, Swiatek justru menaikkan intensitas, dan pada match point kedua, sebuah pukulan forehand menyilang lapangan yang sempurna memastikan kemenangan yang tidak hanya penting secara statistik, tetapi juga emosional.
Yang mengejutkan, meskipun kalah, Alexandrova mengungguli hampir semua aspek statistik utama. Ia mencatat lebih banyak ace (6 banding 2), lebih sedikit kesalahan ganda (6 banding 9), winner lebih banyak (30 banding 23), kesalahan sendiri lebih sedikit (25 banding 40), bahkan total poin yang dimenangkan pun lebih tinggi (108 banding 97). Tapi semua itu tak cukup untuk menyingkirkan Swiatek yang bermain brilian pada momen-momen penentu.
Swiatek sendiri masih berada di peringkat dua dunia, baik dalam ranking WTA maupun klasemen Race to WTA Finals. Tapi kemenangan kali ini punya makna yang jauh lebih dalam bagi petenis asal Polandia itu.
Dalam sesi wawancara seusai laga, Swiatek mengungkapkan bahwa kemenangan ini terasa personal karena ia berhasil "membalaskan kekalahan" sang ayah, Tomasz Swiatek, mantan atlet dayung Polandia yang pernah gagal meraih medali Olimpiade di kota yang sama.
"Ayah saya tidak bisa memenangi Olimpiade di sini, tetapi setidaknya saya memenangi turnamen ini. Jadi, semoga beliau akan datang tahun depan untuk menikmati semuanya," ujar Swiatek, menyiratkan kebanggaan sekaligus kelegaan emosional.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!