Gedung Putih Kini Punya Akun TikTok, Padahal Aplikasinya Dilarang di AS

Gedung Putih Kini Punya Akun TikTok, Padahal Aplikasinya Dilarang di AS
- (Dok. Mashable).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Langkah mengejutkan datang dari Gedung Putih: mereka resmi bergabung ke TikTok pada Selasa lalu, meskipun aplikasi berbagi video pendek itu secara teknis masih menghadapi larangan penggunaan di Amerika Serikat.

Akun resmi ini langsung mengunggah sejumlah video yang menampilkan Presiden Donald Trump bersama stafnya. Dengan gaya edit cepat ala "sizzle reel", cuplikan tersebut mencoba menggambarkan Trump sebagai sosok yang berani, jenaka, dan penuh perlawanan. Dalam salah satu video, Trump terlihat menolak panggilan telepon dari anggota kongres, sementara di video lain ia mengancam untuk melayangkan gugatan hukum saat konferensi pers. Ada juga unggahan yang menyoroti juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, ketika ia disebut berhasil "membungkam" reporter The New York Times dengan jawabannya.

Meski menuai sorotan, langkah ini memperlihatkan betapa pentingnya TikTok sebagai sarana komunikasi politik di era digital. Selama bertahun-tahun, platform milik ByteDance itu terbukti efektif menjangkau audiens muda-kelompok pemilih yang semakin berpengaruh di kancah politik AS. Namun, di sisi lain, keputusan Gedung Putih menimbulkan tanda tanya besar, karena federal employees sebelumnya dilarang menggunakan TikTok di perangkat resmi pemerintah.

Ironisnya, Trump sendiri pada 2020 pernah gencar mendorong pelarangan TikTok dengan alasan keamanan nasional. Ia menuding pemerintah Tiongkok bisa mengakses data pribadi warga Amerika melalui aplikasi tersebut. Mahkamah Agung bahkan sempat menguatkan undang-undang yang mewajibkan TikTok dijual ke perusahaan AS jika ingin tetap beroperasi. Namun di periode kepemimpinannya yang kedua, Trump terlihat melunak-ia beberapa kali memperpanjang tenggat penjualan, alih-alih mengeksekusi larangan total.

Respons publik terhadap kehadiran Gedung Putih di TikTok pun beragam. Dari lima video yang sudah diunggah, kolom komentar justru dipenuhi kritik keras. Banyak warganet menyinggung isu kontroversial, termasuk hubungan pertemanan lama Trump dengan Jeffrey Epstein, finansier sekaligus terpidana kasus kejahatan seksual yang meninggal sebelum menjalani persidangan.

Fenomena ini menunjukkan paradoks besar dalam politik digital Amerika. Di satu sisi, TikTok dianggap ancaman; di sisi lain, tak ada platform yang seefektif itu untuk mendekati publik, khususnya generasi muda.

Apakah strategi baru ini akan jadi senjata ampuh bagi Trump dan timnya, atau justru bumerang yang memperkuat skeptisisme publik? Jawabannya akan terlihat seiring perjalanan akun TikTok Gedung Putih yang kini terus jadi bahan perbincangan panas.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE