Ancaman Baru di Era Digital: Bisakah Komputer Kuantum Membobol Enkripsi Dunia?
JAKARTA, GENVOICE.ID - Dua puluh lima tahun lalu, dunia teknologi sibuk mengatasi ancaman millennium bug, yang dikhawatirkan akan menyebabkan sistem perbankan lumpuh dan pesawat jatuh dari langit. Untungnya, dampaknya ternyata minimal.
Dilansir dari BBC, kini, ada ancaman baru yang lebih kompleks dan sulit diprediksi, yakni dengan munculnya komputer kuantum yang berpotensi menghancurkan sistem enkripsi yang melindungi dunia digital. Jika terjadi, dampaknya bisa meluas ke segala sektor, dari transaksi keuangan, e-commerce, hingga komunikasi satelit.
Berbeda dari komputer klasik yang menggunakan bit biner (0 dan 1), komputer kuantum menggunakan qubit, yang dapat berada di beberapa kondisi sekaligus melalui konsep superposisi.
"Keunggulan utamanya adalah kemampuannya melakukan berbagai perhitungan secara bersamaan, menjadikannya jauh lebih efisien dan kuat," jelas Prof Nishanth Sastry, Direktur Riset Ilmu Komputer di Universitas Surrey.
Teknologi ini memiliki potensi luar biasa di bidang seperti penelitian medis dan ilmu material. Namun, di sisi lain, kemampuannya memecahkan masalah matematika kompleks juga berarti komputer kuantum bisa dengan mudah membobol enkripsi yang saat ini melindungi data digital kita.
Saat ini, enkripsi seperti RSA membutuhkan waktu ribuan hingga jutaan tahun untuk dipecahkan oleh komputer klasik. Namun, dengan komputer kuantum yang cukup kuat, enkripsi ini bisa ditembus hanya dalam hitungan menit.
Para ahli memperkirakan bahwa komputer kuantum yang cukup kuat untuk meretas enkripsi modern masih bertahun-tahun lagi. Namun, kemajuan terus terjadi.
Pada Desember lalu, Google mengumumkan pencapaian baru dalam chip kuantum mereka, yang diklaim sebagai terobosan penting menuju komputer kuantum berskala besar.
Beberapa perkiraan menyebutkan bahwa diperlukan sekitar 10.000 qubit untuk membobol enkripsi saat ini, sementara perkiraan lain menyebutkan angka jutaan qubit. Saat ini, komputer kuantum paling canggih pun masih memiliki beberapa ratus qubit saja.
Namun, masalah besar muncul sekarang karena peretas bisa mencuri data terenkripsi hari ini dan membukanya nanti ketika komputer kuantum sudah cukup kuat. Ini memaksa perusahaan dan pemerintah untuk mulai mempersiapkan transisi ke sistem enkripsi yang lebih aman, sebuah tantangan besar mengingat betapa luasnya teknologi digital saat ini.
Menurut Jon France, Kepala Keamanan Informasi di organisasi keamanan siber ISC2, miliaran perangkat di seluruh dunia menggunakan enkripsi asimetris yang rentan terhadap serangan kuantum.
"Perubahan ini adalah tantangan besar," katanya.
Beberapa perangkat, seperti browser web, bisa diperbarui dengan mudah melalui pembaruan perangkat lunak. Namun, perangkat keras seperti Internet of Things (IoT) atau sistem lama dalam infrastruktur kritis bisa jadi jauh lebih sulit diperbarui.
Misalnya, sistem air, listrik, atau komunikasi militer mungkin tidak memiliki cukup daya komputasi untuk menangani standar enkripsi baru. Dalam beberapa kasus, satu-satunya solusi adalah mengganti perangkat keras secara keseluruhan, sebuah proses yang mahal dan memakan waktu.
Menurut para pakar, salah satu solusi terbaik adalah membangun "crypto agility", yaitu kebijakan dan sistem otomatisasi yang memungkinkan transisi enkripsi lebih terstruktur dan tidak kacau.
Ancaman ini bahkan meluas hingga satelit di luar angkasa.
Prof Sastry menjelaskan bahwa satelit komunikasi seperti Starlink dapat diperbarui dengan relatif mudah, meskipun perangkat harus offline sementara waktu. Namun, tantangan lebih besar muncul pada satelit penginderaan jauh, seperti yang digunakan untuk pemetaan geografis atau intelijen militer.
Satelit semacam ini biasanya memiliki modul keamanan yang kuat, dan meningkatkan enkripsinya bisa berarti harus mengganti seluruh satelit. Beruntung, kini biaya peluncuran satelit semakin murah dan lebih sering dilakukan, sehingga masalah ini tidak seburuk yang dibayangkan sebelumnya.
Seperti yang telah terjadi pada millennium bug, respons yang cepat dan terkoordinasi dapat mencegah bencana digital. Pertanyaannya adalah, apakah dunia akan cukup siap ketika hari itu tiba?
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!