Mau Ekonomi Indonesia Melesat Maju? Berikut Hal yang Harus Dilakukan

Ekonomi Global

Mau Ekonomi Indonesia Melesat Maju? Berikut Hal yang Harus Dilakukan
- (Dok. Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE - Tak dipungkiri bahwa saat ini negara kita menghadapi tantangan serius dalam hal ekonomi, terlebih lagi bagaimana meningkatkan investasi yang masuk. Jika ingin membenahi hal tersebut, maka ada tiga pekerjaan rumah besar yang harus dibenahi.

Hal itu disampaikan Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko, merespons laporan terbaru yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi enam negara terbesar Asia Tenggara rata-rata 4,8 persen per tahun antara 2026 hingga 2035. Dari catatan pertumbuhan ekonomi tersebut, Vietnam diperkirakan tetap memimpin sebagai pertumbuhan tertinggi di kawasan. Sedangkan, Thailand diproyeksikan mengalami tingkat pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan negara anggota lainnya.

Menurut Suhartoko, Singapura dinilai sebagai ekonomi paling tangguh berkat sektor keuangan yang maju dan stabil. Sementara Indonesia, Filipina, dan Thailand memiliki potensi risiko yang lebih besar dalam skenario terburuk global. Jika Indonesia ingin bersaing dengan Vietnam yang ekonominya melesat,

"Tantangan bagi Indonesia melakukan pembenahan perizinan, penyediaan infrastruktur yang terintegrasi serta keamanan investasi. Jika tidak dilakukan investasi bisa jadi tidak akan terealisasi," tegas Suhartoko.

Laporan tersebut menjadi alarm bagi Indonesia yang meski memiliki pasar besar dan bonus demografi, tetap harus berbenah agar investasi yang sudah dijanjikan tidak hanya di atas kertas, namun benar-benar terealisasi di lapangan.

Berdasarkan laporan regional Southeast Asia Outlook 2026-2035, Indonesia menghadapi tantangan dalam hal efisiensi kelembagaan dan konsistensi eksekusi kebijakan dibandingkan negara tetangga.

Selain itu beban subsidi dan kebergantungan pada konsumsi rumah tangga membuat ruang gerak fiskal semakin terbatas dalam memacu investasi jangka panjang.

Sebelumnya pengamat ekonomi Universitas Wijaya Kusuma (UWKS) Surabaya, Ermatry Hariani, mengatakan, proyeksi tersebut menunjukkan persaingan antarnegara kawasan dalam merebut investasi asing akan semakin ketat.

Indonesia memiliki pasar domestik besar dan sumber daya alam yang kuat, tetapi sejumlah negara tetangga memiliki keunggulan yang membuat investor lebih mudah masuk dan memperluas bisnis.

"Investor itu bukan cuma mencari pasar besar. Mereka juga mencari tempat yang prosesnya jelas, infrastrukturnya siap, energinya aman, dan urusan bisnisnya bisa diprediksi. Di bagian ini, beberapa negara tetangga memang punya keunggulan," ujarnya.

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan modal untuk bersaing. Realisasi investasi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 1.931 triliun rupiah atau 101 persen dari target pemerintah, sementara investasi hilirisasi mencapai 584 triliun rupiah.

"Jadi persoalannya bukan Indonesia tidak menarik bagi investor. Investasi tetap masuk dan angkanya besar. Tantangannya adalah bagaimana membuat investor punya alasan untuk memilih Indonesia ketika mereka juga punya pilihan Vietnam, Malaysia atau Singapura," kata Ermatry.

Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat faktor yang menjadi pembeda, bukan hanya mengandalkan besarnya pasar dan sumber daya alam. Kepastian regulasi, kecepatan perizinan, kualitas infrastruktur, ketersediaan energi, kesiapan tenaga kerja, serta kemampuan mengembangkan industri berteknologi tinggi menjadi faktor penting.

M
M Zaki Alatas
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE