Harga Pangan dan Energi Jadi Sorotan, Pemerintah-BI Diminta Kompak Kendalikan Inflasi

Pemerintah dan Bank Indonesia didorong memperkuat koordinasi agar inflasi tetap terkendali, terutama dengan menjaga stabilitas harga pangan dan energi yang langsung berdampak pada masyarakat.

Harga Pangan dan Energi Jadi Sorotan, Pemerintah-BI Diminta Kompak Kendalikan Inflasi
Meski inflasi Juni 2026 masih berada dalam sasaran, ekonom menilai pemerintah dan Bank Indonesia perlu memperkuat sinergi untuk menjaga harga pangan dan energi tetap stabil di tengah tekanan global. - (Dok. ANTARA).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) didorong untuk semakin memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Langkah ini dinilai penting agar inflasi tetap terkendali dan masyarakat tidak terbebani oleh kenaikan harga kebutuhan pokok maupun energi.

Sejumlah ekonom menilai pengendalian inflasi tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan suku bunga. Pemerintah dan BI juga perlu fokus menjaga pasokan serta kestabilan harga pangan dan energi yang dampaknya paling cepat dirasakan masyarakat.

Sinergi Fiskal dan Moneter Dinilai Sangat Penting

Dosen Magister Ekonomi Terapan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, YB Suhartoko, mengatakan kebijakan fiskal dan moneter memiliki peran yang sama penting dalam menjaga perekonomian nasional.

Menurutnya, kebijakan fiskal umumnya difokuskan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, sedangkan kebijakan moneter bertujuan menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi.

Karena itu, ketika pemerintah meningkatkan belanja untuk mendorong pertumbuhan, BI perlu menyeimbangkannya melalui kebijakan moneter yang lebih hati-hati agar tekanan inflasi tetap terkendali.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa inflasi tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah uang beredar. Faktor lain seperti pasokan pangan, distribusi, dan harga energi juga memiliki peran besar terhadap kenaikan harga di masyarakat.

Harga Pangan dan Energi Harus Jadi Prioritas

Suhartoko menilai pengendalian inflasi non-inti, terutama pada kelompok volatile food dan administered prices, perlu menjadi fokus utama pemerintah bersama BI.

Ia juga berharap Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dapat bekerja lebih optimal, terutama saat harga komoditas global masih bergejolak.

Menurutnya, koordinasi yang kuat akan membantu menjaga daya beli masyarakat sekaligus memperkuat stabilitas ekonomi nasional.

BI Pastikan Inflasi Masih Sesuai Target

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa koordinasi dengan pemerintah pusat maupun daerah terus dilakukan agar inflasi tetap berada dalam sasaran yang telah ditetapkan.

Ia mengatakan kenaikan harga komoditas global menjadi tantangan yang harus diantisipasi bersama agar dampaknya terhadap masyarakat dapat ditekan.

Berdasarkan data Bank Indonesia, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2026 tercatat 3,34 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan masih berada dalam kisaran target yang ditetapkan.

Harga Pangan Masih Jadi Penyumbang Inflasi

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi bulanan pada Juni 2026 mencapai 0,44 persen.

Sementara itu, inflasi inti tercatat 2,76 persen (yoy), sedikit lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh tingginya harga sejumlah komoditas dunia.

Di sisi lain, kelompok volatile food mencatat inflasi tahunan sebesar 5,58 persen, meski lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Komoditas seperti bawang merah, bawang putih, dan beras menjadi penyumbang utama kenaikan harga akibat turunnya produksi di daerah sentra, meningkatnya biaya distribusi, serta berakhirnya masa panen raya.

Stabilitas Harga Dinilai Penting untuk Jaga Daya Beli

Para ekonom menilai keberhasilan menjaga inflasi bukan hanya tercermin dari angka statistik, tetapi juga dari kemampuan pemerintah memastikan harga kebutuhan pokok tetap terjangkau.

Karena itu, sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia dinilai menjadi kunci agar stabilitas ekonomi tetap terjaga, daya beli masyarakat terlindungi, dan pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung secara berkelanjutan.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE