Jangan Sampai Salah Beli! Ini Cara Bedakan Beras Fortifikasi dan Beras Biasa
Beras fortifikasi memiliki tambahan vitamin dan mineral tertentu yang harus memenuhi standar. Kenali perbedaannya dengan beras biasa sebelum membeli.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Beras menjadi salah satu bahan pangan pokok yang hampir setiap hari dikonsumsi masyarakat Indonesia. Namun, tidak semua beras yang beredar di pasaran memiliki karakteristik dan kandungan gizi yang sama.
Selain beras biasa, terdapat pula beras fortifikasi yang mendapatkan tambahan zat gizi tertentu melalui proses khusus. Karena itu, konsumen perlu memahami perbedaannya agar tidak keliru ketika memilih beras, terutama di tengah adanya perhatian terhadap produk yang mencantumkan klaim fortifikasi pada kemasan.
1. Kandungan Zat Gizinya Sudah Ditentukan
Perbedaan utama beras fortifikasi dan beras biasa terletak pada adanya tambahan zat gizi tertentu yang sudah ditetapkan dalam standar. Berdasarkan SNI 9372:2025 tentang Beras Fortifikasi, terdapat sejumlah vitamin dan mineral yang menjadi bagian dari proses fortifikasi.
Zat gizi tersebut meliputi vitamin B1, asam folat, vitamin B12, zat besi, dan seng. Dalam setiap 100 gram beras fortifikasi, vitamin B1 ditetapkan minimal 0,25 miligram, asam folat 0,25-0,38 miligram, vitamin B12 1-1,5 mikrogram, zat besi 3,50-5,25 miligram, serta seng 3-4,5 miligram.
Dengan demikian, beras fortifikasi bukan sekadar beras yang mendapatkan label "bergizi". Ada jenis dan jumlah zat gizi tertentu yang harus dipenuhi sesuai standar yang berlaku.
2. Beras Fortifikasi Memiliki Standar Khusus
Beras fortifikasi juga harus memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan melalui standar nasional. Salah satunya adalah SNI 9372:2025 tentang Beras Fortifikasi yang mengatur berbagai persyaratan produk tersebut.
Selain itu, terdapat SNI 9314:2024 yang mengatur kernel beras fortifikan. Kernel tersebut merupakan bagian yang digunakan dalam proses fortifikasi dan dibuat menyerupai bentuk butiran beras.
Karena itu, beras fortifikasi tidak hanya dinilai berdasarkan tampilan akhirnya. Proses produksi, bahan yang digunakan, kandungan zat gizi, mutu, keamanan, serta informasi yang tercantum pada label juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
3. Mengandung Tambahan Vitamin dan Mineral
Beras fortifikasi mendapatkan tambahan vitamin dan mineral melalui proses fortifikasi. Dalam proses tersebut, beras dicampurkan dengan kernel beras fortifikan yang telah diperkaya dengan zat gizi dan dibuat menyerupai butiran beras.
Kernel tersebut kemudian dicampurkan dengan beras sosoh dalam proporsi tertentu. Proses pencampuran dilakukan agar zat gizi tambahan dapat tersebar dalam produk beras fortifikasi.
Artinya, perbedaan beras fortifikasi dengan beras biasa bukan hanya bisa dilihat dari kondisi beras setelah dimasak. Hal yang membedakan adalah adanya tambahan vitamin dan mineral tertentu yang ditetapkan dalam standar.
4. Beras Biasa Tidak Melalui Proses Fortifikasi
Beras biasa pada dasarnya merupakan beras yang dikonsumsi sebagai pangan pokok tanpa penambahan zat gizi tertentu dengan tujuan fortifikasi. Kandungan gizi pada beras biasa tetap berasal dari beras itu sendiri dan dapat berbeda berdasarkan jenis, varietas, tingkat penggilingan, serta proses pengolahannya.
Karena itu, beras biasa bukan berarti beras yang tidak memiliki kandungan gizi. Perbedaannya dengan beras fortifikasi terletak pada ada atau tidaknya penambahan zat gizi melalui proses fortifikasi.
Jangan Hanya Lihat Warna dan Bentuk Beras
Perbedaan beras fortifikasi dan beras biasa tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan warna, bentuk, rasa, atau harga. Konsumen perlu memperhatikan informasi yang tercantum pada kemasan, terutama mengenai kandungan zat gizi dan standar yang digunakan.
Beras fortifikasi memiliki ketentuan kandungan zat gizi serta standar khusus yang harus dipenuhi. Karena itu, sebelum membeli, konsumen sebaiknya membaca label dengan teliti dan memastikan informasi mengenai fortifikasi sesuai dengan produk yang ditawarkan.
Memahami perbedaan tersebut dapat membantu konsumen lebih cermat ketika memilih beras di pasaran. Dengan begitu, pembelian tidak hanya didasarkan pada klaim pada kemasan, tetapi juga pada informasi kandungan dan standar yang memang harus dipenuhi oleh produk beras fortifikasi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!