Kemampuan AI Yang Sebenarnya, Benarkah Kecerdasan Buatan Bisa Berpikir Dan Memahami Seperti Manusia?

Kemampuan AI Yang Sebenarnya, Benarkah Kecerdasan Buatan Bisa Berpikir Dan Memahami Seperti Manusia?
- (Dok. AFP).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Belakangan ini kita sering banget denger orang ngomong seolah-olah teknologi kecerdasan buatan itu punya nyawa atau perasaan sendiri, Gen. Pernah nggak sih kalian denger kalimat kayak "ChatGPT tau segalanya" atau "AI lagi mikir buat jawab pertanyaan kamu"? Fenomena ini sebenernya menarik banget buat dibahas karena tanpa kita sadari, cara kita ngomongin teknologi sering kali pake bahasa yang dipinjam dari cara manusia berpikir.

Hal ini pelan-pelan ngebentuk persepsi yang salah di kepala kita semua kalau AI itu pinter banget kayak manusia asli. Padahal, di balik kecanggihannya, ada perbedaan yang sangat kontras antara proses kerja otak kita sama algoritma komputer. Sebuah studi terbaru baru saja membedah fenomena ini dengan nganalisis jutaan berita buat liat gimana bahasa mental ini muncul dalam diskusi soal teknologi masa depan. Kita sering kali kejebak sama pilihan kata yang bikin mesin kelihatan punya kesadaran, padahal kenyataannya jauh dari itu.

Memahami batas antara kemampuan manusia dan sistem komputer itu penting banget, biar kita nggak berekspektasi terlalu tinggi atau malah jadi takut sendiri sama kemajuan teknologi yang makin pesat di tahun 2026 ini, Gen.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di Technical Communication Quarterly, para ahli mencoba mengungkap rahasia di balik penggunaan kata-kata antropomorfis atau istilah yang memanusiakan mesin. Profesor Jo Mackiewicz dari Iowa State menjelaskan kalau kita emang terbiasa pake kata kerja mental seperti mengetahui, mengingat, atau memahami dalam kehidupan sehari-hari, jadi wajar kalau kata-kata itu kebawa pas bahas teknologi.

"Kita menggunakan kata kerja mental setiap hari, jadi wajar jika kita juga memakainya saat membahas mesin. Itu membantu kita berhubungan dengan teknologi," kata Jo Mackiewicz memberikan penjelasan. Namun, ia juga ngasih peringatan keras kalau ada risiko besar yang bisa mengaburkan batas nyata antara manusia dan AI.

Penelitian ini menyebutkan kalau penggunaan kata kerja mental itu bisa menyesatkan banget. AI itu sebenernya nggak punya pengalaman batin, kesadaran, apalagi niat. Apa yang dilakuin AI itu cuma murni soal mengenali pola data dalam jumlah besar, bukan karena dia punya perasaan atau kehendak bebas. Kalau kita bilang "AI memutuskan", itu bisa bikin publik ngerasa kalau AI itu mandiri banget, padahal ada peran manusia yang sangat besar di baliknya sebagai perancang dan pengawas sistem tersebut.

Uniknya, pas para peneliti ngecek data dari korpus News on the Web yang isinya lebih dari 20 miliar kata, ternyata istilah AI atau ChatGPT nggak terlalu sering dipasangkan sama kata kerja mental dalam artikel berita resmi. Ini artinya, jurnalis dunia mulai hati-hati dan ngikutin panduan buat nggak sembarangan ngasih emosi manusia ke mesin. Tapi, tetep saja ada beberapa frasa yang masih kerasa "manusiawi" banget, kayak tuntutan kalau AI perlu ngerti dunia nyata.

Intinya, studi ini ngingetin kita kalau bahasa itu sangat kuat dalam ngebentuk cara pandang masyarakat terhadap teknologi. Kita harus tetep sadar kalau di balik jawaban-jawaban pinter AI, tetep ada campur tangan manusia yang ngelatih dan ngawasin mereka. Jangan sampai bahasa yang kita pake malah bikin kita lupa sama tanggung jawab manusia di balik teknologi itu sendiri, Gen.

Menurut Gen, apakah kalian ngerasa lebih nyaman ngomong sama AI kalau kita nganggep mereka punya perasaan, atau justru lebih milih nganggep mereka cuma sekadar alat bantu yang kaku?

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE