Viral Fenomena Hotel Darurat! Warga Minta Pihak KAI untuk Berbenah

Viral Fenomena Hotel Darurat! Warga Minta Pihak KAI untuk Berbenah
- (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Menjelang tengah malam, ketika sebagian besar warga sudah memadamkan lampu dan menarik selimut, halaman depan Stasiun Cikarang justru mulai terisi.

Bukan oleh penumpang yang baru tiba, melainkan para pekerja yang kelelahan setelah lembur panjang. Taman dan area parkir stasiun berubah fungsi menjadi tempat istirahat dadakan. Dari kejauhan, suasananya seperti hotel tanpa pintu, tanpa kasur, tanpa tarif-hanya alas seadanya dan udara dini hari yang menusuk.

Fenomena ini muncul karena jeda operasi kereta yang cukup panjang. Kereta terakhir melintas sekitar pukul 23.30, sedangkan kereta pertama baru jalan lagi sekitar pukul 04.00. Selisih waktu lebih dari empat jam itu membuat banyak pekerja tak punya pilihan selain "menginap" di depan stasiun sambil menunggu pagi.

Pada Rabu dini hari, Teguh, 35 tahun, duduk bersandar di pinggir taman dengan ransel dijadikan bantal. Ia baru keluar dari shift lembur dan terlambat beberapa menit saja untuk mengejar kereta terakhir. Baginya, itu berarti menunggu hingga fajar.

"Pulang kerja ketinggalan kereta, jadinya tidur di area parkir," ujarnya. Malam yang dingin bukan satu-satunya tantangan. Teguh tetap waspada terhadap tas dan ponselnya, barang yang menurutnya paling penting untuk dijaga. Meski begitu, ia merasa tak punya opsi lebih baik. Menunggu di stasiun adalah satu-satunya cara untuk tetap bisa pulang tanpa menghabiskan duit untuk transportasi lain.

Di sisi lain taman, Malvi, 23 tahun, sudah terbiasa dengan rutinitas ini. Ia bekerja di Cikarang, namun rumahnya di Tebet. Saat pekerjaan menuntut lembur, kemungkinannya untuk mengejar kereta terakhir nyaris nol. Setiap kali terlambat, tidur di taman depan stasiun menjadi hal yang tak terhindarkan.

"Masuk angin itu sudah risiko. Di sini memang nggak ada tempat untuk istirahat," tuturnya. Ketika ditanya soal mencari kos di Cikarang, ia menggeleng. Harga kos murah sulit ia temukan, sementara pekerjaan sebagai daily worker membuat pendapatannya tidak selalu stabil.

Para penumpang yang bernasib sama mengaku ruang tunggu stasiun pun tak bisa dipakai. Begitu jam operasional selesai, petugas meminta seluruh penumpang keluar. Semua orang yang terlantar akibat keterlambatan harus bertahan di area terbuka sampai kereta pertama tiba.

Kondisi seperti ini dirasa kurang ideal bagi pekerja yang bergantung sepenuhnya pada kereta komuter. Sistem shift membuat mereka pulang larut, sementara transportasi tak selalu bisa diandalkan pada jam-jam kritis. Mereka hanya berharap ada sedikit ruang aman untuk menunggu, setidaknya tempat berteduh selama beberapa jam.

"Kalau bisa ada tempat peristirahatan buat nunggu kereta pagi, jadi lebih aman dan nggak kedinginan," kata Malvi.

Fenomena "hotel darurat" di Stasiun Cikarang menjadi cermin realitas bahwa banyak pekerja di kawasan industri masih sepenuhnya bergantung pada transportasi publik yang jam operasionalnya terbatas. Di tengah tuntutan kerja yang tak mengenal waktu, para pekerja itu menjadikan taman stasiun sebagai ruang tunggu panjang menuju fajar.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE