PVMBG Ungkap Sesar Aktif! Gempa Probolinggo Rusak Puluhan Rumah, Ini Analisis Geologinya
JAKARTA, GENVOICE.ID - Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM merilis analisis geologi terkait gempa bumi yang memicu kerusakan sejumlah rumah di wilayah barat daya Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Dilansir dari Antara, laporan tersebut diteruskan oleh Kepala Pelaksana BPBD Probolinggo, R Oemar Sjarief, dalam keterangan tertulis yang diterima di Probolinggo pada Minggu.
Menurut analisis awal PVMBG, pusat gempa berada di darat. Area terdekat dicirikan oleh morfologi perbukitan dan dataran bergelombang, bentuk lahan yang kerap memengaruhi arah dan kekuatan rambatan gelombang seismik. Secara litologi, wilayah itu disusun oleh batuan Kuarter vulkanik serta endapan non-tektonik. Material semacam ini, terutama bila telah lapuk atau bercampur sedimen permukaan lepas, dapat memperkuat atau "menggoyangkan" lebih keras struktur bangunan di atasnya ketika terjadi gempa.
PVMBG juga mengklasifikasikan tanah di wilayah terdekat pusat gempa ke dalam kelas tanah D (tanah sedang) dan kelas tanah C (tanah padat/batuan lunak). Kategori ini penting bagi perencanaan bangunan, jenis tanah yang kurang kaku dapat memperbesar amplitudo guncangan, sehingga struktur yang tidak dirancang tahan gempa menjadi lebih rentan mengalami kerusakan.
"Berdasarkan lokasi dan kedalamannya, gempa bumi tersebut diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar aktif di dekat pusat gempa," ujar Oemar menyampaikan temuan PVMBG.
Indikasi keterkaitan dengan sesar aktif membuka kebutuhan pemetaan rinci untuk mitigasi lanjutan, terutama bagi kawasan pemukiman dan infrastruktur publik.
Guncangan gempa dirasakan pada skala intensitas II-III MMI di wilayah Kabupaten Probolinggo, dengan laporan kerusakan rumah warga terutama di Kecamatan Tiris. Pada intensitas ini, sebagian orang merasakan getaran ringan hingga jelas di dalam bangunan; benda-benda ringan dapat bergoyang, dan bangunan dengan kerentanan struktural bisa mengalami retak atau kerusakan non-struktural.
Meski menimbulkan kerusakan permukiman, gempa tidak memicu tsunami. BPBD menegaskan bahwa daerah terdampak memang termasuk kawasan rawan bencana gempa bumi tingkat menengah, sehingga penguatan kesiapsiagaan komunitas lokal dan penyesuaian standar bangunan tahan guncangan menjadi agenda penting ke depan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!