Daftar 20 Makanan Indonesia dengan Rating Terendah Versi TasteAtlas Juni 2026, Ada Pepes Tahu dan Terong Balado!
Heboh Nasi Kucing dan Terong Balado Masuk Daftar 20 Makanan Indonesia dengan Rating Terburuk di TasteAtlas
JAKARTA, GENVOICE.ID - Baru-baru ini, platform panduan kuliner global ternama, TasteAtlas, kembali merilis daftar makanan dengan penilaian terendah dari berbagai penjuru dunia per Juni 2026.
Secara mengejutkan, terdapat sekitar 89 kuliner khas Indonesia yang masuk dalam rapor merah situs tersebut, termasuk beberapa hidangan populer yang menjadi comfort food harian kita seperti terong balado hingga nasi kucing andalan angkringan.
Penilaian ini tentu memicu perdebatan di kalangan pencinta kuliner lokal yang telanjur mencintai cita rasa otentik masakan tersebut.
Bagi Gen yang penasaran dengan selera lidah internasional, simak daftar lengkap 20 makanan Indonesia dengan rating terburuk versi TasteAtlas berikut ini.
Daftar 20 Makanan Indonesia dengan Rating Terendah Versi TasteAtlas
Dari total 9.309 penilaian dunia yang masuk, algoritma sistem telah menyaring 6.321 ulasan valid dari para pengguna global. Berikut adalah 20 kuliner lokal yang menempati peringkat terbawah:
-
Paniki (Rating: 2.0 / 5)
-
Tinutuan (Rating: 2.6 / 5)
-
Lawar (Rating: 2.7 / 5)
-
Nasi Jagung (Rating: 2.7 / 5)
-
Pepes Tahu (Rating: 2.7 / 5)
-
Buntil (Rating: 2.9 / 5)
-
Soto Padang (Rating: 2.9 / 5)
-
Wajik (Rating: 3.0 / 5)
-
Bakso Ayam (Rating: 3.0 / 5)
-
Lalap (Rating: 3.0 / 5)
-
Terong Balado (Rating: 3.0 / 5)
-
Papeda (Rating: 3.0 / 5)
-
Kupat Tahu (Rating: 3.0 / 5)
-
Rujak Petis (Rating: 3.0 / 5)
-
Rendang Nangka (Rating: 3.0 / 5)
-
Plecing Kangkung (Rating: 3.0 / 5)
-
Tahu Campur (Rating: 3.0 / 5)
-
Nasi Kucing (Rating: 3.1 / 5)
-
Nasi Tim Ayam (Rating: 3.1 / 5)
-
Arem-Arem (Rating: 3.1 / 5)
Di Balik Layar: Bagaimana Sistem TasteAtlas Menyaring Penilaian?
Rendahnya rating untuk kuliner populer seperti wajik yang manis hingga soto padang yang gurih ini tentu mengundang tanya. Pihak TasteAtlas sendiri menegaskan bahwa mereka menerapkan mekanisme teknologi dan algoritma kurasi yang sangat ketat untuk menjaga objektivitas data:
-
Anti-Bot dan Akun Nasionalis: Sistem secara otomatis mendeteksi dan mengabaikan penilaian yang datang dari bot komputer. Selain itu, ulasan bias yang bersifat "patriotik lokal" atau gerakan massal akun nasionalis yang sengaja memberi nilai sempurna demi membela makanan daerahnya juga langsung dieliminasi.
-
Bobot Khusus Pakar Kuliner: Algoritma TasteAtlas memberikan nilai tambah atau bobot poin yang lebih besar pada ulasan yang ditulis oleh para kritikus independen serta individu yang diakui memiliki pengetahuan luas di bidang gastronomi (food experts).
Meski demikian, TasteAtlas mengingatkan bahwa hasil peringkat ini tidak boleh dianggap sebagai kesimpulan mutlak atas kualitas sejati suatu hidangan.
Selera rasa sangat dibentuk oleh kebiasaan, budaya, dan lingkungan tempat seseorang tumbuh. Apa yang dirasa asing atau aneh di lidah turis mancanegara, bisa jadi merupakan makanan pusaka yang paling dirindukan oleh masyarakat lokal.
Rilisan dari TasteAtlas ini menjadi pengingat menarik bahwa kelezatan sebuah hidangan tidak akan pernah bisa diseragamkan oleh angka atau algoritma global.
Masuknya kuliner legendaris seperti terong balado, papeda, hingga soto padang dalam daftar ini membuktikan adanya celah budaya rasa yang besar antara lidah internasional dan masyarakat lokal Indonesia.
Bagaimanapun, ulasan buruk dari luar negeri tidak akan pernah mengurangi kenikmatan menyantap sebungkus nasi kucing hangat di angkringan malam hari.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!