JAKARTA, GENVOICE.ID - Menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026, latihan soal Bahasa Indonesia jadi salah satu yang paling diburu siswa SD.
Bukan tanpa alasan, mata pelajaran ini ternyata tidak lagi sekadar membaca teks, tapi juga menguji cara berpikir dan memahami makna secara lebih dalam.
Berdasarkan materi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Pusmendik, pola soal TKA Bahasa Indonesia tahun ini didominasi oleh pemahaman teks, interpretasi makna, hingga kemampuan menarik kesimpulan.
Dari 30 contoh soal yang beredar, terlihat jelas bahwa siswa tidak cukup hanya "bisa baca". Mereka dituntut memahami konteks, emosi tokoh, hingga pesan moral dalam cerita.
Misalnya pada soal berbasis fabel, siswa diminta menafsirkan idiom seperti "diam seribu bahasa". Ini bukan lagi soal arti kata secara literal, tapi kemampuan memahami situasi dalam cerita.
Di bagian lain, soal tentang teks informatif seperti hewan folivora menguji kemampuan siswa dalam mengidentifikasi gagasan utama, menyusun alur informasi, hingga memilih bagan yang tepat. Artinya, kemampuan membaca kritis jadi kunci.
Menariknya, soal cerita seperti "Kenthus yang Sombong" tidak hanya berhenti pada alur cerita, tapi juga mengajak siswa menilai sikap tokoh dan merasakan emosi di akhir cerita. Ini menunjukkan bahwa aspek empati juga ikut diuji.
Tak berhenti di sana, soal juga menyentuh teks fungsional seperti surat, infografis, hingga puisi. Siswa harus memahami makna tersirat, tujuan penulisan, hingga pesan yang ingin disampaikan penulis.
Dalam puisi misalnya, siswa diminta menafsirkan makna "kesetiaan yang tak akan pernah lekang oleh masa", yang jelas tidak bisa dijawab hanya dengan hafalan.
Soal-soal ini menunjukkan satu hal: TKA Bahasa Indonesia kini lebih menekankan pemahaman, bukan sekadar kemampuan teknis membaca.
Dengan pola seperti ini, latihan rutin jadi penting. Bukan hanya untuk mencari jawaban benar, tapi untuk membiasakan diri memahami berbagai jenis teks, dari cerita ringan hingga informasi kompleks.
Bagi siswa kelas 6, tantangan terbesar bukan pada sulitnya soal, tapi pada bagaimana mereka membaca, memahami, dan menafsirkan informasi dengan tepat dalam waktu terbatas.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!