Bacaan Takbiran Idulfitri yang Sering Salah! Ini Versi Lengkap Arab, Latin, dan Artinya yang Bikin Hati Bergetar
Jangan asal ikut-ikutan! Ini bacaan takbiran lengkap yang benar, mulai dari versi pendek hingga panjang beserta maknanya
JAKARTA, GENVOICE.ID - Malam takbiran selalu jadi momen yang paling ditunggu menjelang Hari Raya Idulfitri. Suara takbir menggema di masjid, jalanan, hingga rumah-rumah, menciptakan suasana haru sekaligus penuh kemenangan. Namun, masih banyak orang yang ternyata belum memahami bacaan takbiran secara lengkap, bahkan ada yang hanya ikut-ikutan tanpa tahu maknanya.
Padahal, takbiran bukan sekadar tradisi tahunan. Ini adalah bentuk dzikir dan ungkapan syukur kepada Allah atas kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Tak heran jika bacaan takbir memiliki makna yang begitu dalam dan menyentuh hati.
Mengutip dari NU Online, anjuran untuk melafalkan takbir Idulfitri dimulai sejak malam 1 Syawal tiba hingga imam memulai salat Id dengan Takbiratul Ihram bagi yang melaksanakan secara berjamaah. Sementara bagi yang tidak berjamaah, takbir dianjurkan hingga seseorang memulai salat Id sendiri.
Di sisi lain, terdapat pula pendapat yang menyebutkan bahwa waktu membaca takbir berakhir saat salat Id dimulai.
Anjuran ini berlandaskan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
Artinya:
"Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya serta mengagungkan Allah atas petunjuk yang telah diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Dalam praktiknya, bacaan takbir Idulfitri terbagi menjadi dua jenis, yakni takbir muqayyad dan takbir mursal.
Takbir muqayyad adalah takbir yang dianjurkan untuk dibaca setiap selesai melaksanakan salat, baik salat wajib maupun sunnah. Sementara itu, takbir mursal merupakan takbir yang bisa dilafalkan kapan saja dan di mana saja, tanpa terikat waktu tertentu.
Berdasarkan penjelasan Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' Syarhul Muhadzdzab, takbir umumnya dibaca sebanyak tiga kali dengan lafaz berikut:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar
Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar."
Selain itu, bacaan takbir yang umum dilantunkan oleh masyarakat juga tetap diperbolehkan dan memiliki nilai kebaikan, yaitu:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil hamdu.
Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar. Segala puji bagi-Nya."
Tak hanya itu, terdapat pula tambahan dzikir yang sering dibaca bersama takbir, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW saat berada di Bukit Shafa, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الِلّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ
Allāhu akbar kabīrā, walhamdu lillāhi katsīrā, wa subhānallāhi bukratan wa ashīlā, lā ilāha illallāhu wa lā na'budu illā iyyāhu mukhlishīna lahud dīna walau karihal kāfirūn, lā ilāha illallāhu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa hazamal ahzāba wahdah, lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.
Artinya:
"Allah Maha Besar dengan segala kebesaran-Nya. Segala puji yang melimpah bagi Allah. Maha suci Allah di waktu pagi dan petang. Tiada tuhan selain Allah. Kami tidak menyembah selain Dia, dengan penuh keikhlasan dalam beragama kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir membencinya. Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa. Dia menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan musuh-musuh-Nya sendirian. Tiada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar."
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!