Fans Kaget Reza Arap Umumkan Marapthon "The Last Tale" Jadi Musim Penutup, Padahal Lagi Jadi Trending!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Dunia live streaming kembali berguncang setelah Reza Oktovian atau yang lebih dikenal sebagai Reza Arap mengumumkan kabar yang langsung membuat linimasa riuh.
Lewat MARAPTHON Season 3 bertajuk “The Last Tale”, Arap memastikan bahwa seri maraton legendaris ini resmi berakhir.
Keputusan tersebut terasa makin dramatis karena datang justru saat Marapthon berada di titik tertinggi. Program live streaming berdurasi panjang itu sukses mengangkat namanya ke jajaran streamer paling banyak ditonton secara global, sekaligus membawa nama Indonesia ikut bersinar di panggung internasional.
Season 3 sendiri mulai tayang sejak 8 Februari 2026 dan dirancang berjalan selama 100 hari non-stop hingga 17 Mei 2026. Format ekstrem 24 jam tanpa jeda kembali menjadi daya tarik utama, menghadirkan interaksi spontan, momen tak terduga, hingga dinamika keseharian yang membuat penonton betah berlama-lama.
Dalam sesi live pada 17 Februari 2026, Reza Arap membeberkan alasan di balik keputusan besar tersebut. Ia menyoroti perjalanan waktu yang tak bisa dihindari, terutama bagi anggota AAA Clan yang selama ini menjadi tulang punggung Marapthon.
Menurut Arap, para personel seperti Jot, Yuka, Garry, Aloy, Tepe, Niko, Bravy, dan Ibot kini telah memasuki fase hidup yang berbeda. Prioritas tak lagi sekadar duduk di depan kamera berjam-jam, melainkan bergeser ke urusan pribadi, keluarga, dan karier masing-masing.
“Alasan utamanya karena semua akan punya hidupnya masing-masing,” ujar Arap. Ia menyadari bahwa dinamika yang dulu terasa mudah dijalani kini menuntut kompromi lebih besar.
Sebagai personel Weird Genius, jadwal Arap di industri musik juga semakin padat. Ia bahkan berseloroh bahwa pertemuan mereka di masa depan kemungkinan bukan lagi di depan PC gaming, melainkan di atas panggung.
“Mentok paling kita ketemunya pas manggung,” katanya.
Menutup program sebesar Marapthon saat sedang berada di puncak jelas bukan langkah aman. Namun bagi Arap, ini adalah cara paling terhormat. Ia ingin Marapthon dikenang sebagai fenomena ikonik, bukan tayangan yang dipaksakan terus berjalan hingga kehilangan daya tarik.
Di balik kemeriahan Season 3, tersimpan lapisan emosional yang kuat. “The Last Tale” didedikasikan untuk mendiang Lula Lahfah, sosok yang disebut Arap sebagai bagian penting dalam hidupnya. Marapthon musim terakhir ini menjadi semacam janji sekaligus penghormatan.
Isu miring sempat muncul, termasuk tudingan soal “eksploitasi duka”. Arap menanggapinya dengan nada tegas melalui platform X. Ia menolak anggapan bahwa kesedihan dijadikan komoditas.
Dengan nada sarkastik, ia menyebut bahwa jika tujuannya sekadar angka dan engagement, ada banyak memori pribadi yang bisa saja diunggah. Namun Marapthon, menurutnya, bukan tentang itu.
“Banyak sekali memori foto-foto, video-video, yang bisa saya upload dan kesempatan sangat-sangat besar bagi saya untuk mendapatkan angka/engagement,” tulisnya.
Bagi para penggemar, keputusan ini menghadirkan rasa campur aduk. Ada kebanggaan melihat pencapaian global yang luar biasa, tetapi juga perasaan kehilangan karena sebuah era akan benar-benar berakhir.
Satu hal yang pasti, Marapthon Season 3 bukan sekadar live streaming panjang. Ia telah menjelma menjadi cerita, perjalanan, sekaligus penanda betapa ekosistem kreator digital Indonesia kini mampu berdiri sejajar di level dunia.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!