Warner Bros Gugat ByteDance, Video AI "Superman vs Thanos" Picu Perang Hak Cipta
JAKARTA, GENVOICE.ID - Raksasa hiburan Warner Bros. Discovery melayangkan gugatan besar terhadap ByteDance, perusahaan induk TikTok. Gugatan ini dipicu dugaan penggunaan konten berhak cipta milik Warner untuk melatih model kecerdasan buatan tanpa izin.
Dalam laporan yang dikutip dari Variety, Warner menuduh ByteDance memakai ribuan jam film dan serial televisi mereka sebagai data pelatihan generator video AI. Akibatnya, pengguna bisa membuat klip AI dengan karakter ikonik seperti Batman, Superman, hingga elemen dari serial populer seperti Game of Thrones.
Warner menyebut praktik tersebut sebagai pelanggaran hak cipta serius karena menghasilkan konten dengan kemiripan tinggi tanpa kompensasi royalti. Dalam pernyataan resminya, pihak hukum perusahaan menegaskan bahwa karakter-karakter tersebut merupakan aset inti yang telah dilindungi selama puluhan tahun.
Perusahaan menuntut ByteDance menghentikan penggunaan IP Warner dalam pelatihan AI, menghapus data pelatihan yang berasal dari konten mereka, serta membayar ganti rugi yang diperkirakan mencapai ratusan juta dolar. Warner menilai pelanggaran ini berpotensi merusak nilai eksklusivitas karakter legendaris mereka.
Kontroversi ini mencuat setelah ByteDance merilis Seedance 2.0. Dalam hitungan hari, media sosial dipenuhi video AI bergaya sinematik, termasuk pertarungan fiktif seperti Superman melawan Thanos atau crossover antar waralaba. Pengguna juga membagikan berbagai alternate ending dari film dan serial populer.
Selain karakter DC, konten AI tersebut juga menampilkan referensi ke sejumlah franchise besar lain, mulai dari The Matrix, The Lord of the Rings, hingga Harry Potter. Hal inilah yang memperkuat kekhawatiran studio terkait penyalahgunaan kekayaan intelektual dalam ekosistem AI generatif.
Menanggapi polemik, ByteDance sempat menyatakan akan menambahkan lapisan pengamanan untuk mencegah penyalahgunaan IP oleh pengguna. Namun langkah tersebut belum cukup memuaskan Warner. Mereka menilai akar masalah bukan pada pengguna, melainkan desain awal sistem yang memungkinkan penggunaan karakter berhak cipta.
Warner bahkan menuding bahwa model AI tersebut sudah "dibekali" karakter terkenal sejak awal, sehingga pelanggaran dianggap sebagai keputusan desain yang disengaja. Meski begitu, perusahaan mengakui ByteDance mulai mengambil langkah pembatasan, termasuk memblokir prompt tertentu yang menyebut karakter milik mereka.
Kasus ini menambah panjang daftar konflik antara industri hiburan dan pengembang AI. Persoalan hak cipta dalam pelatihan model generatif kini menjadi isu global, terutama ketika teknologi mampu mereplikasi karakter populer dengan tingkat realisme tinggi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!