Waspada! NASA Beberkan Negara yang Bakal Kena Dampak Hantaman Asteroid, Ada Indonesia?
JAKARTA, GENVOICE.ID -Seorang ilmuwan NASA telah mengidentifikasi jalur kemungkinan dari negara yang akan terkena dampak dari tumbukan asteroid raksasa yang dijuluki "city-killer" ke Bumi.
Dilansir dari Manchester Evening News, batu luar angkasa ini diperkirakan berukuran hingga 90 meter dan memiliki peluang 1 banding 43 untuk menghantam planet kita pada tahun 2032.
David Rankin, seorang insinyur di proyek Catalina Sky Survey yang didanai NASA, telah menghitung "koridor risiko tumbukan" berdasarkan jalur asteroid 2024 YR4 saat ini. Untuk memahami dengan lebih akurat ukuran asteroid ini dan potensi dampaknya, NASA bekerja sama dengan Badan Antariksa Eropa (ESA) menggunakan teleskop paling kuat umat manusia, James Webb Space Telescope.
Asteroid ini pertama kali terdeteksi oleh sistem peringatan Asteroid Terrestrial-Impact Last Alert System (ATLAS) pada Desember 2024. Saat itu, para ahli memperkirakan peluang tumbukannya hanya 1,2 persen atau 1 banding 83 untuk terjadi pada 22 Desember 2032. Namun, awal bulan ini, perkiraan tersebut naik menjadi 2,3 persen. Asteroid 2024 YR4 diprediksi akan melintas sangat dekat dengan Bumi, hanya berjarak sekitar 66.000 mil (106.200 kilometer). Tetapi dengan mempertimbangkan "ketidakpastian orbit," masih ada kemungkinan batu raksasa ini bisa menghantam planet kita secara langsung.
"Ini adalah salah satu probabilitas tertinggi dari tumbukan batu luar angkasa berukuran besar yang pernah tercatat," tulis Rankin di platform BlueSky bulan lalu.
Meski begitu, ia menambahkan, "Penting untuk diingat bahwa orbitnya masih terlalu tidak pasti untuk mengetahui apakah akan benar-benar menghantam, dan saat ini, kemungkinan terbesar adalah asteroid ini akan meleset. Perhitungan koridor tumbukan ini akan diperbarui dengan observasi dan perhitungan orbit yang lebih akurat."
Asteroid 2024 YR4 disebut sebagai "city-killer" karena potensinya dalam menyebabkan kerusakan serius yang bisa memusnahkan satu kota besar.
"Ukuran dan komposisi batuan menjadi faktor utama dalam dampak yang ditimbulkan, selain lokasi tumbukan," tambah Rankin. "Meskipun dampaknya lebih bersifat lokal daripada regional, asteroid ini tetap memiliki potensi untuk menyebabkan kerusakan besar di area yang terkena."
Saat ini, "koridor risiko" yang diperkirakan untuk asteroid 2024 YR4 melintasi beberapa wilayah, termasuk Amerika Selatan, Samudra Pasifik, Asia Selatan, Laut Arab, dan Afrika. Jika asteroid ini benar-benar menghantam Bumi, beberapa negara yang berisiko terdampak antara lain:
-
Venezuela
-
Kolombia
-
Ekuador
-
India
-
Pakistan
-
Bangladesh
-
Ethiopia
-
Sudan
-
Nigeria
Zona tumbukan diperkirakan memiliki radius sekitar 50 kilometer, yang bisa berdampak pada delapan kota besar dengan populasi gabungan lebih dari 110 juta jiwa, termasuk: Bogotá (Kolombia), Abidjan (Pantai Gading), Lagos (Nigeria), Khartoum (Sudan), Mumbai (India), Kolkata (India), dan Dhaka (Bangladesh).
Namun, para ilmuwan masih memperkirakan ada kemungkinan 98 persen asteroid ini akan melintas dengan aman tanpa menabrak Bumi.
Menurut Dr. James O'Donoghue, ilmuwan planet dari Universitas Reading, dampak asteroid dengan ukuran 80 meter bisa menghasilkan energi delapan kali lipat lebih besar dibanding asteroid 40 meter.
"Sebagai perbandingan, asteroid 40 meter membawa energi setara beberapa megaton TNT, mirip dengan hulu ledak nuklir. Sementara asteroid 90 meter dapat menghasilkan lebih dari 50 megaton, sebanding dengan Tsar Bomba, perangkat nuklir paling kuat yang pernah diledakkan," jelas Dr. O'Donoghue.
Berdasarkan estimasi saat ini, asteroid 2024 YR4 akan menyebabkan lebih banyak kerusakan dibanding meteor berdiameter 18 meter yang meledak di atas langit Chelyabinsk, Rusia, pada tahun 2013. Namun, dampaknya jauh lebih kecil dibanding asteroid Chicxulub berdiameter 10 kilometer yang memusnahkan dinosaurus 66 juta tahun lalu.
Asteroid ini juga lebih kecil dibanding Bennu, asteroid berdiameter 500 meter yang saat ini diperkirakan memiliki peluang kurang dari satu persen untuk menghantam Bumi pada tahun 2182. Jika tumbukan Bennu benar-benar terjadi, dampaknya diprediksi bisa memicu "musim dingin tumbukan" yang menghancurkan ekosistem dan ketahanan pangan selama bertahun-tahun.
Dengan teknologi pengamatan yang terus berkembang, para ilmuwan berharap dapat memperoleh data yang lebih akurat mengenai lintasan dan ukuran 2024 YR4 dalam beberapa tahun ke depan.
0 Comments





- Lionel Messi Absen di Laga Houston Dynamo, Ini Alasan Inter Miami Mengistirahatkannya
- Dua Jamaah di Pemalang Meninggal Tertimpa Pohon Saat Shalat Idul Fitri
- Megawati Makin Bersinar, Red Sparks Taklukkan Hillstate di Playoff Liga Voli Korea
- UGM Kembangkan AI untuk Deteksi Dini TBC, Dukung Eliminasi Kasus di Indonesia
- 'Daredevil Born Again' Kembali dengan Aksi Brutal! Penggemar Wajib Nonton
- Google Kalah di Pengadilan Eropa, Jadi Pertanda Buruk di Dunia Teknologi
- Ini 10 Makanan yang Harus Kamu Hindari saat Sahur!
- Tate McRae Sambut Ribuan Penggemar di Kia Forum dalam Perayaan Album Terbarunya, So Close to What
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!