Keputusan Mark Zuckerberg Menuai Kontroversi di Sosial Media
JAKARTA, GENVOICE.ID - Mark Zuckerberg kembali menjadi sorotan publik setelah mengambil beberapa keputusan besar yang menuai kritik. Salah satu kebijakan terbaru yang menjadi perbincangan adalah perubahan sistem pemeriksaan fakta di Facebook.
Melansir dari The Street, Rabu (19/2), Meta mengumumkan bahwa mereka akan menghapus kebijakan pemeriksaan fakta dan menggantinya dengan sistem mirip Community Notes milik X (sebelumnya Twitter), yang dikembangkan di era kepemimpinan Elon Musk. Keputusan ini memicu reaksi beragam dari pengguna media sosial, dengan beberapa pihak mengkhawatirkan penyebaran misinformasi.
Selain itu, keputusan Zuckerberg untuk menghadiri pelantikan Presiden Donald Trump juga memicu kecaman. Hal ini terlihat dari meningkatnya pencarian di Google tentang cara menghapus akun Facebook, Instagram, dan Threads dalam beberapa minggu setelah acara tersebut.
Namun, kebijakan lain yang lebih baru dari Meta justru menambah kontroversi. Pada Januari 2025, perusahaan mengumumkan restrukturisasi yang mencakup pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam jumlah signifikan. Dalam memo internalnya, Zuckerberg menyatakan bahwa keputusan ini bertujuan untuk meningkatkan standar kinerja perusahaan. "Saya telah memutuskan untuk menaikkan standar manajemen kinerja dan memberhentikan karyawan berkinerja rendah lebih cepat," tulisnya.
Meskipun PHK merupakan hal yang umum di sektor teknologi, dengan perusahaan seperti Tesla, Google, dan Amazon juga melakukan langkah serupa pada 2024, banyak karyawan Meta yang merasa keberatan dengan label "berkinerja rendah" yang diberikan kepada mereka.
Beberapa mantan karyawan yang terkena PHK membantah alasan tersebut. Kaila Curry, mantan Manajer Konten Meta, menyebutkan dalam unggahan LinkedIn bahwa dirinya justru mendapat penilaian "melampaui ekspektasi" dalam evaluasi pertengahan tahun. Ia juga menduga bahwa alasan sebenarnya di balik PHK ini bukan soal kinerja, melainkan pergeseran fokus Meta ke kecerdasan buatan (AI).
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Rebecca Cassity, mantan Senior Content Designer di divisi Trust and Privacy Meta. Ia mengungkapkan bahwa evaluasi tahunannya menunjukkan hasil yang sangat baik, sehingga keputusan PHK ini menimbulkan tanda tanya di kalangan karyawan yang terdampak.
Dengan berbagai reaksi yang muncul, kebijakan terbaru Meta ini memunculkan pertanyaan lebih luas tentang strategi perusahaan ke depan dan dampaknya terhadap tenaga kerja di industri teknologi.
0 Comments





- Google Menghapus Janji untuk Tidak Menggunakan AI dalam Senjata atau Pengawasan
- Wu-Tang Clan Umumkan Tur Terakhir di Amerika Utara, Dimulai Juni 2025
- Millie Bobby Brown Hadir di SAG Awards dengan Gaya Elegan
- Brian May Isyaratkan Kemungkinan Musik Baru dari Queen
- Tokoh Kontroversial Gypsy Blanchard Tampil dengan Gaya Baru di Media Sosial
- Anthony Davis Kembali Bermain Setelah Enam Minggu Absen, Sumbang 12 Poin untuk Mavericks
- NIKI Bawakan Hits dari Band The Cranberries di Pertunjukan Turnya
- OpenAI Kembangkan Model AI yang Pandai Menulis Kreatif, Picu Kontroversi Hak Cipta
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!