Masa Depan Generasi Z di Asia Dalam Bahaya

Masa Depan Generasi Z di Asia Dalam Bahaya
- (Dok. istimewa).

JAKARTA - The Bussiness Times melaporkan kalau model ekonomi baru Tiongkok menempatkan masa depan Generasi Z di Asia dalam bahaya. Benua yang merupakan rumah bagi beberapa perekonomian yang paling berorientasi pada perdagangan di dunia itu memanfaatkan globalisasi untuk mengangkat kehidupan dan penghidupan ratusan juta orang.

Namun kini negara tersebut terkena dampak ganda karena basis ekspor yang semakin mendapat tekanan dari membanjirnya barang-barang murah dari Tiongkok, yang tidak diragukan lagi merupakan kekuatan dominan di kawasan ini, dan perang dagang yang dilancarkan Presiden AS Donald Trump.

Hal itu membuat frustrasi generasi yang sudah berjuang karena gaji yang stagnan dan melonjaknya biaya hidup. Mereka harus menghadapi kenyataan bahwa pekerjaan di sektor manufaktur yang dapat memberikan kesejahteraan bagi orang tua mereka semakin sulit ditemukan, bahkan ketika jenjang pekerjaan kerah putih semakin padat bagi lulusan universitas.

Sementara Bank Dunia menilai perlunya perbaikan kualitas lapangan kerja agar pertumbuhan ekonomi benar-benar berdampak pada masyarakat. Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Carolyn Turk dalam peluncuran laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) di Jakarta, Selasa (16/12) mengatakan meski stabilitas makroekonomi terjaga, tantangan di pasar tenaga kerja masih terus mempengaruhi kesejahteraan rumah tangga.

Indikator pasar tenaga kerja sebenarnya menunjukkan persoalan pada kualitas pekerjaan, terutama bagi kelompok usia muda.

Penyerapan tenaga kerja memang meningkat 1,3 persen pada periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025, tetapi mayoritas tambahan lapangan kerja tersebut berasal dari sektor-sektor dengan upah rendah.

Selain itu, laporan IEP Bank Dunia juga mencatat upah riil di Indonesia justru terus mengalami penurunan sejak 2018. "Segmen keterampilan menengah ini sedang menyusut," imbuh Carolyn.

Senada dengan itu, Lead Economist Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste David Knight mengatakan dari sisi penciptaan lapangan kerja, kondisi Indonesia sebenarnya cukup menjanjikan. Meski demikian, tren penurunan upah membuat dampaknya terhadap kesejahteraan menjadi terbatas.

"Penambahan lapangan kerja terlihat positif, tapi pada saat yang sama masih terjadi penurunan upah. Ini sangat berdampak bagi pekerja berketerampilan menengah dan pada akhirnya mempengaruhi kesejahteraan rumah tangga serta perekonomian secara keseluruhan," katanya.

Lebih lanjut, David menerangkan bahwa struktur pasar tenaga kerja didominasi sektor berupah rendah. Pekerja muda banyak yang masuk ke sektor informal berupah rendah, sementara rasa tidak aman ekonomi justru meningkat, terutama di kalangan kelas menengah.

"Hasil survei menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin lebar antara perbaikan kesejahteraan secara objektif dan persepsi masyarakat. Walaupun angka kemiskinan menurun, jumlah rumah tangga yang merasa miskin justru meningkat," jelasnya.

Kondisi tersebut mendorong rumah tangga untuk lebih berhati-hati dalam berbelanja dan memilih menabung sebagai langkah antisipasi, meskipun indikator makroekonomi utama menunjukkan kondisi yang relatif kuat.

Bank Dunia pun mengusulkan perlunya perbaikan kualitas lapangan kerja menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat lebih inklusif dan berkelanjutan ke depan.

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE