7 Tokoh Belanda Terkejam di Indonesia: Dari J.P. Coen hingga Daendels yang Menyengsarakan Rakyat
Pieter Both: Pelopor Monopoli Perdagangan Rempah VOC
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sejarah penjajahan Belanda di Indonesia diwarnai oleh serangkaian kebijakan ketat yang menyengsarakan rakyat demi melanggengkan kekuasaan dan mengeksploitasi sumber daya alam Nusantara.
Di balik sistem monopoli perdagangan, pengerahan kerja paksa, hingga perlawanan militer yang memakan banyak korban jiwa, terdapat sosok gubernur jenderal dan petinggi kolonial yang mengeksekusi keputusan tersebut dengan tangan dingin. Tujuh tokoh Belanda berikut dikenal memiliki rekam jejak paling keras serta kebijakan yang berdampak fatal bagi kehidupan masyarakat jajahan.
1. Pieter Both: Pencetus Monopoli Rempah Pertama
Menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC pertama (1610-1614), Pieter Both meletakkan fondasi penguasaan ekonomi Belanda di Nusantara. Ia memperketat monopoli perdagangan rempah-rempah, khususnya di Maluku, melalui perjanjian sepihak dengan penguasa lokal. Kebijakan ini merampas kebebasan pedagang dan masyarakat setempat untuk menjual hasil bumi mereka ke pihak lain, sekaligus membatasi sumber penghidupan warga lokal.
2. J.P. Coen: Monopoli Pala di Banda Lewat Kekerasan
Jan Pieterszoon Coen (1619-1623 & 1627-1629) membawa kebijakan monopoli ke tingkat yang sangat brutal. Demi menguasai perdagangan pala di Kepulauan Banda pada tahun 1621, Coen memimpin ekspedisi militer yang membantai, menangkap, dan mengusir ribuan warga lokal. Setelah masyarakat Banda disingkirkan, VOC menyita tanah mereka dan mengoperasikan perkebunan pala menggunakan tenaga kerja budak.
3. Herman Willem Daendels: Kerja Rodi Jalan Raya Pos
Menjabat pada 1808-1811 di bawah pengaruh Prancis, Daendels bertugas memperkuat pertahanan Jawa dari serangan Inggris. Ia memerintahkan pembangunan Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan melalui pengerahan kerja rodi. Ribuan rakyat Indonesia tewas akibat kelaparan, penyakit malaria, dan medan berat, seperti pada pemaprasan bukit batu di Cadas Pangeran, sehingga Daendels dijuluki "Gubernur Bertangan Besi".
4. Johannes van den Bosch: Pencetus Sistem Tanam Paksa
Sebagai Gubernur Jenderal yang menjabat sejak 1830, Van den Bosch menerapkan Cultuurstelsel (Sistem Tanam Paksa) untuk mengisi kembali kas Belanda yang kuis pascaperang. Petani diwajibkan menanami sebagian besar lahannya dengan komoditas ekspor seperti kopi, tebu, dan nila. Praktik penyelewengan di lapangan membuat rakyat kehilangan lahan pangan, mengalami kelaparan hebat, dan terserap tenaganya demi keuntungan finansial Belanda.
5. J.B. van Heutsz: Penaklukan Militer di Aceh
Gubernur Aceh (1898-1904) yang kemudian menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda ini menggunakan strategi pemecah belah antara kelompok ulama dan uleebalang (penguasa adat) bersama Snouck Hurgronje. Van Heutsz menggelar operasi militer brutal untuk menumpas perlawanan gerilya rakyat Aceh. Kampanye militernya pada 1904 di bawah pimpinan Van Daalen meratakan desa-desa serta menewaskan ribuan warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak.
6. Antonio van Diemen: Ekspedisi Hongitochten di Maluku
Memimpin VOC pada 1636-1645, Van Diemen memperketat monopoli cengkih di Ambon dan sekitarnya. Ia membatasi jumlah pohon cengkih agar harga pasar tetap tinggi di Eropa. Untuk mengawasi aturan ini, VOC menjalankan pelayaran Hongitochten menggunakan armada kora-kora untuk memusnahkan tanaman cengkih ilegal milik warga serta memaksa masyarakat lokal menjadi pendayung armada secara cuma-cuma.
7. Adriaan Valckenier: Pembantaian Etnis Tionghoa di Batavia (1740)
Valckenier menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC pada 1737-1741 saat terjadi krisis ekonomi dan penumpukan pengangguran di kalangan pekerja Tionghoa. Ketegangan sosial berujung pemberontakan dibalas Valckenier dengan perintah penyerangan represif di dalam kota Batavia pada Oktober 1740. Tragedi yang dikenal sebagai Pembantaian Angke ini menewaskan sedikitnya 10.000 warga Tionghoa sipil dalam waktu beberapa hari.
Rekam jejak ketujuh tokoh di atas menjadi bukti sejarah betapa besarnya dampak dari kebijakan kolonialisme terhadap kemanusiaan dan perekonomian rakyat Nusantara. Langkah-langkah represif yang mereka ambil semata-mata demi mempertahankan keuntungan ekonomi dan supremasi politik kekuasaan Belanda pada zamannya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!