Skandal Chatbot Meta! Senator AS Bongkar Dugaan Interaksi Romantis AI dengan Anak di Bawah Umur

Skandal Chatbot Meta! Senator AS Bongkar Dugaan Interaksi Romantis AI dengan Anak di Bawah Umur
- (Dok. Antara).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Senator Amerika Serikat Josh Hawley mengumumkan penyelidikan serius terhadap produk kecerdasan buatan milik Meta.

Dilansir dari Antara, ia mengungkap kekhawatiran mendalam bahwa teknologi AI generatif dari perusahaan tersebut bisa mengeksploitasi, menipu, atau bahkan membahayakan anak-anak.

Langkah ini diambil menyusul bocornya dokumen internal Meta yang menghebohkan publik. Dokumen itu menunjukkan bahwa chatbot AI milik Meta pernah diizinkan terlibat dalam percakapan romantis dan sensual dengan anak-anak di bawah umur. Dalam satu contoh mengerikan yang dilaporkan oleh TechCrunch pada Senin, chatbot dikatakan memberi pernyataan seperti, "Setiap inci dari dirimu adalah mahakarya, harta yang sangat aku hargai," kepada anak berusia delapan tahun.

Hawley, yang menjabat sebagai Ketua Subkomite Kejahatan dan Kontraterorisme Senat AS, menilai kebijakan tersebut benar-benar tidak dapat diterima. Ia menegaskan bahwa penyelidikan akan menyoroti potensi risiko teknologi AI terhadap anak-anak serta kemungkinan Meta telah menyesatkan publik dan regulator tentang sistem pengamanannya.

Juru bicara Meta berdalih bahwa contoh percakapan tersebut tidak mewakili kebijakan resmi perusahaan dan telah segera dihapus. Namun, bagi Hawley, hal ini justru mengindikasikan bahwa ada kelalaian serius dalam proses persetujuan internal Meta.

"Kami ingin tahu siapa yang menyetujui kebijakan ini, berapa lama kebijakan ini berlaku, dan langkah apa saja yang diambil Meta untuk memastikan kejadian ini tidak terulang," tegas Hawley dalam surat resmi yang ditujukan kepada CEO Meta, Mark Zuckerberg.

Dalam surat tersebut, Hawley juga menuntut Meta menyerahkan seluruh dokumen terkait. Termasuk semua versi draf panduan, laporan keselamatan, catatan insiden, daftar produk yang terdampak, dan identitas para pengambil keputusan dalam perubahan kebijakan. Meta diberikan tenggat waktu hingga 19 September 2025 untuk menjawab permintaan itu.

Penyelidikan ini turut mendapat dukungan penuh dari Senator Marsha Blackburn. Ia mengkritik keras Meta atas kegagalannya melindungi anak-anak di dunia digital.

"Meta telah gagal total dalam segala hal yang berkaitan dengan perlindungan anak-anak secara online. Yang lebih mengkhawatirkan, mereka seolah menutup mata terhadap potensi dampak fatal dari desain platform mereka," ujar Blackburn.

Ia juga menekankan pentingnya pengesahan Kids Online Safety Act sebagai langkah nyata melindungi anak-anak dari bahaya teknologi digital yang tidak terkontrol.

Kasus ini menambah panjang daftar kontroversi yang melibatkan raksasa teknologi dalam penggunaan AI generatif. Pertanyaan besar kini mengemuka tentang siapa yang harus bertanggung jawab ketika teknologi canggih disalahgunakan hingga berdampak pada anak-anak.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE