General Motor Perintahkan Pemasok Tak Gunakan Suku Cadang dari Tiongkok

General Motor Perintahkan Pemasok Tak Gunakan Suku Cadang dari Tiongkok
- (Dok. istimewa).

PALO ALTO - Awal minggu ini, General Motors (GM) dilaporkan telah memerintahkan beberapa ribu pemasoknya untuk membersihkan rantai pasokan suku cadang mereka dari Tiongkok.

Langkah itu menunjukkan kekhawatiran industri otomotif terhadap gangguan geopolitik yang kian sering menghambat operasi global mereka.

Menurut sumber tersebut, GM meminta para pemasok untuk mencari alternatif di luar Tiongkok dengan tujuan akhir memindahkan seluruh rantai pasokan dari negara itu. Beberapa pemasok bahkan telah diberi tenggat waktu hingga 2027 untuk menghentikan ketergantungan mereka terhadap Tiongkok.

Instruksi ini pertama kali disampaikan pada akhir 2024, namun mendapat dorongan baru pada awal 2025, di tengah memanasnya perang dagang antara AS dan Tiongkok.

Eksekutif GM menyebut langkah ini sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan "ketahanan rantai pasok" (supply chain resiliency) perusahaan.

Sepanjang 2025, ketegangan geopolitik antara AS dan Tiongkok memaksa para eksekutif otomotif untuk terus menyesuaikan strategi produksi.

Kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang berubah-ubah, serta kekhawatiran terhadap keterbatasan pasokan logam tanah jarang (rare earth) dan chip semikonduktor, membuat produsen mobil harus meninjau ulang kebergantungan mereka terhadap Tiongkok yang selama ini menjadi sumber utama komponen otomotif dunia.

Komponen Buatan Tiongkok

Perusahaan otomotif asal Amerika Serikat (AS), Tesla berencana mengganti semua komponen lainnya dengan komponen buatan luar Tiongkok dalam satu atau dua tahun ke depan.

Sebagaimana dilaporkan Wall Street Journal (WSJ) pada Jumat (14/11), Tesla baru-baru ini mengharuskan pemasoknya untuk mengecualikan komponen buatan Tiongkok dalam pembuatan mobilnya di AS.

Produsen kendaraan listrik dan para pemasoknya pun telah mengganti beberapa komponen buatan Tiongkok dengan komponen buatan negara lain.

Menurut laporan yang mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut, para eksekutif Tesla telah berjuang melawan ketidakpastian yang disebabkan oleh fluktuasi tingkat tarif dalam pertempuran perdagangan AS-Tiongkok, yang membuat sulit bagi produsen mobil tersebut untuk merumuskan strategi penetapan harga yang koheren.

Selama dua tahun terakhir Tesla telah meningkatkan proporsi suku cadang yang bersumber dari Amerika Utara untuk pabrik-pabriknya di AS setelah meningkatnya ancaman tarif, seperti dilaporkan kantor berita Reuters pada April lalu.

Awal bulan ini, data dari Asosiasi Mobil Penumpang Tiongkok menunjukkan bahwa penjualan kendaraan listrik Tesla buatan Tiongkok turun 9,9 persen menjadi 61.497 unit pada bulan Oktober dibandingkan tahun sebelumnya, membalikkan kenaikan 2,8 persen pada bulan September.

Penjualan kendaraan Model 3 dan Model Y dari produsen mobil AS yang diproduksi di "gigafactory" Shanghai itu, termasuk ekspor ke Eropa, India, dan pasar lainnya, turun 32,3 persen dari September.

Ketegangan geopolitik antara kedua negara adidaya ini telah membuat para eksekutif mobil dalam mode waspada sepanjang tahun 2025. Tarif yang berlaku terus-menerus dari Presiden Donald Trump serta kepanikan industri atas potensi kemacetan logam tanah jarang dan kekurangan chip komputer telah membuat perusahaan-perusahaan mobil mempertimbangkan kembali hubungan mereka dengan Tiongkok, yang telah lama menjadi sumber penting suku cadang dan bahan baku.

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE