Bukan Cuma Faktor Angin, Ini 4 Hal yang Bikin Asap Karhutla Mencapai Jakarta

Asap dapat bergerak melalui aliran udara pada ketinggian berbeda, sementara perubahan pola atmosfer ikut menentukan arah dan jarak penyebarannya.

Bukan Cuma Faktor Angin, Ini 4 Hal yang Bikin Asap Karhutla Mencapai Jakarta
Asap karhutla terdeteksi di langit Jakarta berdasarkan citra satelit. Pakar menjelaskan peran angin, perbedaan arah aliran udara, dan kondisi atmosfer dalam penyebaran asap. - (Dok. ANTARA FOTO).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terdeteksi mencapai wilayah Jakarta berdasarkan pemantauan citra satelit. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana asap dari kawasan kebakaran, termasuk Kalimantan, bisa terbawa hingga ibu kota yang berjarak ratusan kilometer.

Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto, membenarkan bahwa Jakarta masuk dalam wilayah yang terdeteksi memiliki asap dan berada di area sebaran asap karhutla. Informasi tersebut merujuk pada citra satelit BMKG yang disampaikan pada Jumat (16/10/2026).

"Berdasarkan gambar [citra satelit] BMKG, Jakarta tercantum sebagai wilayah yang terdeteksi terdapat asap dan dalam area sebaran asap karhutla," kata Guswanto kepada CNBC Indonesia melalui pesan singkat, Jumat (16/10/2026), dikutip Sabtu (17/10/2026).

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono Perwira Sakti, menjelaskan bahwa penyebaran asap karhutla hingga Jakarta dapat terjadi melalui beberapa mekanisme atmosfer. Faktor yang memengaruhinya meliputi arah angin, perbedaan aliran udara pada berbagai ketinggian, serta perubahan pola sirkulasi udara regional.

4 Faktor yang Membuat Asap Karhutla Menyebar hingga Jakarta

1. Angin Timuran Membawa Asap ke Wilayah Lain

Angin timuran merupakan salah satu pola sirkulasi udara yang dominan di Indonesia selama musim kemarau. Meski demikian, arah angin tidak selalu sama di setiap wilayah karena dipengaruhi lokasi, ketinggian, waktu, dan kondisi atmosfer.

"Karena itu, angin di Kalimantan belum tentu memiliki arah yang sama dengan angin di Laut Jawa maupun Jakarta," tulis Daryono melalui akun X @daryono_eq_talk, Sabtu (17/10/2026).

Perbedaan arah angin tersebut membuat perjalanan asap tidak bisa diperkirakan hanya berdasarkan kondisi angin yang dirasakan masyarakat di permukaan tanah. Untuk mengetahui jalur penyebarannya, diperlukan pengamatan terhadap pola angin di berbagai wilayah dan lapisan atmosfer.

2. Asap Terbawa Aliran Angin di Ketinggian Berbeda

Partikel asap karhutla, termasuk partikel halus PM2.5, dapat terangkat ke lapisan atmosfer melalui turbulensi dan proses konveksi. Ketika mencapai ketinggian tertentu, partikel tersebut bisa terbawa aliran udara yang arah dan kecepatannya berbeda dari angin di permukaan.

"Kondisi ini memungkinkan asap bergerak mengikuti jalur transportasi atmosfer yang tidak selalu searah dengan angin yang dirasakan masyarakat di permukaan," urai Daryono.

Mekanisme ini memungkinkan partikel asap berpindah jauh dari sumber kebakaran. Karena itu, asap yang terdeteksi di suatu wilayah tidak selalu berasal dari kebakaran yang berada paling dekat dengan wilayah tersebut.

3. Perubahan Pola Angin Regional

Perubahan kondisi atmosfer juga dapat membuka jalur penyebaran asap menuju wilayah yang lebih jauh. Gangguan atmosfer, daerah bertekanan rendah, sirkulasi siklonik, hingga masa peralihan monsun dapat mengubah arah aliran udara untuk sementara waktu.

"Apabila terbentuk aliran udara dari kawasan kebakaran menuju Laut Jawa dan Jakarta, partikel asap berpotensi terbawa melintasi jarak ratusan kilometr," tulis Daryono.

Jika pola aliran udara mendukung, partikel asap dari kawasan kebakaran dapat bergerak melintasi sejumlah wilayah sebelum mencapai Jakarta. Namun, kemungkinan tersebut tetap bergantung pada kondisi atmosfer yang berlangsung selama proses penyebaran.

4. Konsentrasi Asap Bisa Berubah Selama Perjalanan

Asap yang bergerak jauh dari sumber kebakaran tidak selalu memiliki tingkat konsentrasi yang sama. Selama berada di atmosfer, partikel asap dapat mengalami pengenceran, pencampuran dengan udara, perubahan kimia, serta pengendapan.

"Dampaknya bergantung pada besarnya emisi, arah dan kecepatan angin, curah hujan, serta stabilitas atmosfer," tandas Daryono.

Dengan demikian, terdeteksinya asap melalui citra satelit tidak otomatis berarti kualitas udara di permukaan tanah mengalami pencemaran berat. Untuk mengetahui dampaknya terhadap masyarakat, diperlukan pula pengamatan kualitas udara di permukaan.

Pemprov DKI Imbau Warga Terapkan 4M

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan Satelit Himawari pada Jumat (16/10/2026), asap terdeteksi di sejumlah wilayah, termasuk Provinsi DKI Jakarta. Pola sebarannya terpantau mengikuti arah angin dari timur-tenggara menuju barat laut-utara.

Meski demikian, deteksi asap melalui satelit tidak serta-merta membuktikan bahwa partikel tersebut telah mencapai permukaan tanah. Oleh karena itu, pemantauan kualitas udara tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi yang benar-benar dialami warga Jakarta.

Untuk mengantisipasi kemungkinan penurunan kualitas udara, Pemprov DKI mengimbau masyarakat menerapkan langkah pencegahan melalui gerakan 4M, yaitu:

  1. Memakai masker, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

  2. Menutup pintu, jendela, wadah makanan, dan sumber air agar lebih terlindungi dari paparan polutan.

  3. Membatasi aktivitas di luar ruangan, khususnya ketika kualitas udara memburuk.

  4. Memantau informasi dari instansi resmi mengenai perkembangan sebaran asap dan kondisi kualitas udara.

Kelompok masyarakat yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi lansia, anak-anak dan balita, ibu hamil, penderita gangguan pernapasan, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Kelompok tersebut perlu lebih berhati-hati terhadap potensi paparan polusi dan mengikuti informasi kesehatan maupun kualitas udara dari sumber resmi.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE