Bahaya Asap Karhutla bagi Anak, Bisa Ganggu Kecerdasan hingga Picu Trauma Psikologis

IDAI mengingatkan paparan asap kebakaran hutan dan lahan dalam jangka panjang berisiko memengaruhi kesehatan paru-paru, kemampuan akademik, hingga kesehatan mental anak.

Bahaya Asap Karhutla bagi Anak, Bisa Ganggu Kecerdasan hingga Picu Trauma Psikologis
Bahaya asap karhutla bagi anak. - (Dok. ANTARA).

JAKARTA, GENVOICE.ID -Bahaya asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bagi anak-anak ternyata tidak hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan. Jika terjadi dalam jangka panjang, paparan asap juga berpotensi memengaruhi kemampuan intelektual, prestasi akademik, hingga kesehatan mental saat mereka tumbuh dewasa.

Risiko Gangguan Paru-Paru hingga Kanker

Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Fifi Sofiah, SpA, SubspRespi(K), menjelaskan bahwa paparan asap karhutla secara berulang dapat menimbulkan dampak kesehatan berkepanjangan. Salah satu risiko yang perlu diwaspadai adalah gangguan pada sistem pernapasan yang dapat menetap.

Anak-anak yang terus-menerus menghirup udara tercemar asap karhutla berisiko mengalami penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) ketika dewasa. Tidak hanya itu, paparan polutan dari kebakaran hutan dan lahan juga dapat berdampak pada sistem kardiovaskular yang berperan dalam menjaga fungsi jantung dan pembuluh darah.

Kandungan partikel dan bahan kimia dalam asap juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko penyakit tertentu. Menurut dr. Fifi, paparan zat-zat tersebut dalam jangka panjang turut dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker paru.

"Ke depannya karena partikel bahan kimia dan sebagainya, bisa meningkatkan risiko penyakit kanker paru," kata dr. Fifi dalam acara temu media IDAI, Jumat (16/10/2026).

Asap Karhutla Berpotensi Pengaruhi Kecerdasan Anak

Dampak paparan asap karhutla juga dapat menjangkau perkembangan kemampuan berpikir anak. Dr. Fifi menyebut sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan asap dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan penurunan kualitas intelegensia.

Kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap kemampuan anak dalam mengikuti proses pembelajaran. Penelitian yang disampaikan dalam penjelasannya juga menemukan adanya penurunan skor akademik, yang berpotensi membuat performa belajar anak tidak maksimal.

Dampaknya bahkan bisa berlanjut ketika anak memasuki usia dewasa. Kemampuan akademik yang kurang optimal dapat menjadi salah satu tantangan dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja, yang kemudian berpotensi memengaruhi tingkat pendapatan dan kesejahteraan.

"Artinya ke depannya sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja dan akhirnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan menjadi rendah pada saat dewasa," sambungnya.

Ancaman terhadap Kesehatan Mental Anak

Selain kesehatan fisik dan kemampuan intelektual, aspek psikologis anak juga tidak boleh diabaikan. Dr. Fifi mengingatkan bahwa pengalaman traumatis yang berkaitan dengan karhutla dapat berdampak pada kesehatan mental dan berpotensi berujung pada kondisi post-traumatic stress disorder (PTSD).

PTSD merupakan gangguan yang dapat muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis. Oleh sebab itu, dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap anak perlu dipahami secara menyeluruh, termasuk kemungkinan munculnya masalah psikologis setelah kejadian.

"Ini adalah kondisi-kondisi yang harus kita antisipasi agar nanti dampak ke depannya, jangka panjang pada anak-anak itu tidak terjadi," ujarnya.

Perlindungan Anak dari Paparan Asap Perlu Diperkuat

Pencegahan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko dampak jangka panjang tersebut. Perlindungan anak dari paparan asap, disertai perhatian terhadap kondisi kesehatan fisik dan mental mereka, diperlukan agar risiko gangguan yang dapat memengaruhi kehidupan hingga dewasa bisa diminimalkan.

A

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE