Malam ke-27 Ramadan Disebut Paling Dekat dengan Lailatul Qadar, Benarkah? Ini Dalil dan Doa yang Dianjurkan
Malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan diyakini menyimpan Lailatul Qadar, dan banyak ulama menyebut malam ke-27 sebagai salah satu yang paling kuat kemungkinannya.
JAKARTA, GENVOICE.ID- Ramadan 1447 H kini memasuki penghujungnya. Bagi umat Islam di Indonesia yang mulai menjalankan puasa pada 19 Februari 2026, malam ini menandai malam ke-27 Ramadan, salah satu malam ganjil yang berada dalam sepuluh hari terakhir bulan suci.
Malam ke-27 termasuk waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam. Pada sepuluh malam terakhir Ramadan, umat islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah karena diyakini terdapat Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam an-Nawawi menyebutkan beberapa hadits yang menjelaskan kebiasaan Rasulullah SAW pada akhir Ramadan. Beliau diketahui selalu beriktikaf dan mendorong umatnya untuk mencari Lailatul Qadar pada malam-malam terakhir tersebut.
وَعَنْ عَائِشَةَ ، قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُجَاوِرُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، وَيَقُولُ : تَحرُّوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ. (متفق عليه)
Artinya: Dari Aisyah, dia bercerita, Rasulullah giat sekali beriktikaf pada sepuluh malam yang terakhir Ramadan. Beliau bersabda, "Bersungguh-sungguhlah kalian mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan." (Muttafaq Alaih, hadits shahih)
Selain beriktikaf, Rasulullah SAW juga menghidupkan malam-malam tersebut dengan berbagai ibadah dan membangunkan keluarganya agar turut memperbanyak amal. Hal ini dijelaskan dalam sejumlah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.
Dalil yang Mengaitkan Lailatul Qadar dengan Malam ke-27
Sebagian ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar kemungkinan terjadi pada malam ke-27 Ramadan. Pendapat ini merujuk pada hadits yang diriwayatkan dari sahabat Ubay bin Ka'ab RA.
Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa Zirr bin Hubaisy pernah bertanya kepada Ubay bin Ka'ab mengenai perkataan Ibnu Mas'ud yang menyatakan bahwa siapa saja yang beribadah sepanjang tahun akan mendapatkan Lailatul Qadar. Ubay bin Ka'ab kemudian menjelaskan bahwa Ibnu Mas'ud mengatakan hal tersebut agar umat Islam tidak hanya beribadah pada satu malam tertentu saja.
Namun, Ubay bin Ka'ab menegaskan bahwa ia mengetahui Lailatul Qadar berada pada bulan Ramadan, khususnya di sepuluh malam terakhir, dan ia meyakini bahwa malam tersebut jatuh pada malam ke-27. Keyakinan itu didasarkan pada tanda yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW, yaitu matahari yang terbit pada pagi harinya tampak lembut tanpa sinar yang menyilaukan. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Riwayat serupa juga dapat ditemukan dalam berbagai kitab hadits lain seperti Sunan Abu Dawud, Musnad Ahmad, dan Sunan Tirmidzi. Imam At-Tirmidzi bahkan menyebut hadits yang mengaitkan Lailatul Qadar dengan malam ke-27 Ramadan sebagai hadits hasan shahih.
Selain itu, sahabat Ibnu Umar RA juga meriwayatkan sabda Rasulullah SAW:
مَنْ كَانَ مُتَحَرِّهَا، فَلْيَتَحَرَّهَا فِي لَيْلَة سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ
Artinya: "Siapa saja yang berupaya untuk mendapati Lailatul Qadar, hendaklah ia berupaya untuk mendapatinya pada malam ke-27." (HR Ahmad dalam Musnad-nya)
Meski demikian, para ulama sepakat bahwa waktu pasti Lailatul Qadar hanya diketahui oleh Allah SWT. Rasulullah SAW pernah hampir memberitahukan kapan tepatnya malam tersebut, tetapi pengetahuan itu kemudian diangkat oleh Allah SWT. Karena itulah Nabi menganjurkan umatnya untuk bersungguh-sungguh meningkatkan ibadah selama sepuluh malam terakhir Ramadan.
Doa yang Dianjurkan pada Malam Lailatul Qadar
Sayyidah Aisyah RA pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang doa yang sebaiknya dibaca ketika seseorang bertemu dengan malam Lailatul Qadar. Rasulullah SAW kemudian mengajarkan doa berikut:
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ اَلْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allāhumma innaka 'afuwwun tuḥibbul 'afwa fa'fu 'annī.
Artinya: "Ya Allah, sungguh Engkau Maha Pengampun yang menyukai ampunan. Aku mohon kepada-Mu, ampunilah aku."
Doa ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan dinilai sebagai hadits hasan shahih, sehingga sangat dianjurkan untuk diamalkan pada malam-malam terakhir Ramadan, khususnya ketika berharap mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!