China Tanggapi Permintaan Donald Trump Soal Pengamanan Jalur Pelayaran di Selat Hormuz
JAKARTA, GENVOICE.ID - Pemerintah China menyatakan terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Beijing ikut berperan dalam memulihkan aktivitas pelayaran di jalur strategis tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan negaranya berkomitmen untuk membantu meredakan situasi yang memanas di kawasan itu.
Menurut Lin, China terus menjaga komunikasi dengan semua pihak guna mendorong upaya penurunan ketegangan dan menjaga stabilitas kawasan.
Pernyataan tersebut muncul setelah Trump, dalam wawancara dengan Financial Times, menyampaikan bahwa sejumlah negara diminta bergabung dalam koalisi internasional untuk mengawal kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Trump menyebut sekitar tujuh negara telah diminta ikut serta dalam rencana tersebut. Meski tidak merinci semuanya, ia menilai negara-negara yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah, termasuk China, seharusnya ikut berkontribusi dalam menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut.
Menurut Trump, sebagian besar pasokan minyak yang digunakan China melewati Selat Hormuz sehingga negara itu memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas jalur energi tersebut.
Lin Jian menilai situasi keamanan di kawasan Selat Hormuz belakangan memang memengaruhi jalur perdagangan global, terutama distribusi energi dan komoditas penting lainnya.
Ia juga kembali menyerukan kepada seluruh pihak agar menghentikan operasi militer yang berpotensi memperburuk situasi. Menurutnya, peningkatan ketegangan di kawasan itu dapat memicu dampak lebih luas terhadap stabilitas regional serta pertumbuhan ekonomi global.
Selain membahas isu keamanan kawasan, Lin juga menyinggung rencana kunjungan Trump ke Beijing yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Maret hingga 2 April 2026.
Ia menyatakan diplomasi tingkat kepala negara tetap menjadi sarana penting dalam memberikan arahan strategis bagi hubungan bilateral antara China dan Amerika Serikat.
Sementara itu, laporan The Wall Street Journal menyebut Gedung Putih tengah mempertimbangkan pembentukan koalisi multinasional untuk menjaga keamanan Selat Hormuz. Selain China, sejumlah negara lain seperti Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris juga disebut telah diminta untuk berpartisipasi.
Namun, banyak pemerintah disebut masih berhati-hati untuk berkomitmen pada rencana tersebut sebelum konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran benar-benar mereda.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan militer besar yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sekitar 1.300 orang lainnya.
Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat. Situasi itu turut memicu penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur utama distribusi energi dunia.
Selat sempit yang berada di kawasan Teluk tersebut menjadi rute penting bagi pengiriman minyak dari negara-negara produsen seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, Iran, dan Uni Emirat Arab.
Setiap hari sekitar 17 juta hingga 20 juta barel minyak melewati jalur tersebut, atau sekitar seperlima dari total perdagangan minyak dunia. Sebagian besar pasokan itu dikirim ke negara-negara Asia, termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!