Miss Universe 2025 Penuh Drama dan Kontroversi, CEO Mario Bucaro Mundur!
JAKARTA, GENVOICE.ID - Gen, jagat kontes kecantikan global sedang diguncang krisis hebat! Ajang Miss Universe 2025 yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand, kini tercatat sebagai salah satu edisi paling kontroversial dan penuh drama dalam sejarah kompetisi ratu kecantikan dunia. Berbagai polemik yang muncul tidak hanya memicu kemarahan publik internasional, tetapi juga berujung pada guncangan besar di dalam tubuh organisasi.
Badai kontroversi ini mencapai puncaknya dengan kabar pengunduran diri CEO Miss Universe Organization (MUO), Mario Bucaro, serta pengumuman resign dari Olivia Yace, perwakilan Cote d'Ivoire yang juga menyandang gelar Miss Universe Africa and Oceania.
Dilansir dari Hindustan Times pada Minggu (14/12/2025), MUO mengumumkan bahwa Mario Bucaro resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO pada 12 Desember 2025. Yang lebih mengejutkan, Mario Bucaro baru saja resmi menjabat pada November 2025, yang berarti masa kepemimpinannya hanya berjalan sebulan saja! Mario Bucaro sebelumnya menggantikan Jakapong "Anne" Jakrajutatip yang lebih dulu mundur pada Juni.
Alasan Diskriminatif dan Pengunduran Diri yang Beretika
Presiden MUO, Raul Rocha Cantu, mencoba meredam gejolak ini dengan menyebut masa jabatan Mario Bucaro sebagai bentuk "pelayanan institusional". Raul Rocha mengapresiasi perannya dalam memimpin operasional Miss Universe ke-74.
"Mario Bucaro telah menjalankan tanggung jawab kepemimpinan operasional utama dalam penyelenggaraan Miss Universe 2025," ujar Raul Rocha dalam pernyataan resmi MUO.
Meskipun MUO menilai ajang di Bangkok itu sebagai pencapaian penting, publik justru menilai sebaliknya karena banyaknya kontroversi. Mario Bucaro sendiri menegaskan dirinya selalu bekerja dengan standar etika tertinggi dan menyebut masa jabatannya sebagai pengalaman berharga.
Di tengah gejolak kepemimpinan, Miss Universe Africa and Oceania, Olivia Yace, mengumumkan pengunduran diri dari seluruh afiliasi dengan Miss Universe. Keputusan Olivia sangat kuat: ia mundur demi menjaga nilai-nilai martabat, keadilan, kesetaraan, dan integritas.
"Saya harus tetap setia pada nilai-nilai yang membimbing hidup saya: rasa hormat, martabat, keunggulan, dan kesempatan yang setara," tulis Olivia.
Ia juga menyuarakan pesan kuat bagi perempuan Afrika dan diaspora Afro-descendant untuk terus hadir dan bersuara di ruang-ruang yang selama ini tertutup bagi mereka.
Tudingan Kecurangan dan Komite Rahasia
Kontroversi semakin memanas setelah Presiden MUO, Raul Rocha, dalam sebuah siaran langsung justru mengungkap alasan mengapa Olivia Yace tidak memenangkan mahkota Miss Universe 2025. Ia menyebut paspor Cote d'Ivoire yang membutuhkan visa ke 175 negara sebagai faktor penghambat!
Pernyataan diskriminatif ini langsung menuai kecaman luas, dianggap tidak profesional dan seolah mengonfirmasi adanya ketidakadilan dalam sistem penilaian. Reaksi keras juga datang dari Miss Guadeloupe, Ophely Mezino, yang menuding MUO mengeksploitasi negara-negara kecil atas nama "diversitas dan inklusi" tanpa komitmen nyata.
Gejolak tidak berhenti di situ. Isu dugaan kecurangan hasil kompetisi juga muncul dari internal juri. Salah satu juri, Natalie Glebova (Miss Universe 2005), secara terbuka menyebut bahwa juara pertama seharusnya bukan Miss Mexico, Fatima Bosch, dan menyoroti kurangnya transparansi penjurian. Juri lain, Omar Harfouch, bahkan mengundurkan diri sebelum malam final, mengklaim adanya "komite rahasia" yang telah menentukan hasil kompetisi!
Meskipun MUO membantah keras tudingan tersebut dan menyebut Omar telah dicopot dari panel juri, kemenangan Fatima Bosch dari Meksiko terus diperdebatkan publik.
Saat ini, MUO menyatakan proses pencarian CEO baru tengah berlangsung. Namun, tantangan terbesar di depan adalah pemulihan kepercayaan publik yang sudah hancur akibat krisis dan drama yang menutupi sorotan glamor ajang kecantikan ini.
Gen, menurut kamu, apakah Miss Universe Organization bisa memulihkan kepercayaan publik setelah badai kontroversi, pengunduran diri CEO, dan tudingan diskriminasi ini?
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!