Google Digugat Pemilik Rolling Stone! Fitur AI Ringkasan Dinilai Rugikan Bisnis Media
JAKARTA, GENVOICE.ID - Google kembali terseret dalam pusaran gugatan hukum, kali ini dari Penske Media Corporation (PMC), perusahaan penerbit yang menaungi sejumlah media besar seperti Rolling Stone, Billboard, Variety, Hollywood Reporter, Deadline, Vibe, dan Artforum. Gugatan ini diajukan karena Google dinilai secara ilegal menggunakan konten mereka untuk mengisi fitur Ringkasan AI (AI Overviews) di hasil pencarian.
Dilansir dari TechCrunch, gugatan ini merupakan yang pertama kali diajukan PMC terhadap Google dan perusahaan induknya, Alphabet. PMC menuduh raksasa teknologi tersebut telah merusak model bisnis penerbit berita dengan cara menyajikan ringkasan jawaban AI yang mengambil konten dari situs media tanpa izin atau kompensasi memadai.
"Sebagai penerbit global terkemuka, kami memiliki kewajiban untuk melindungi jurnalis terbaik kami dan jurnalisme peraih penghargaan sebagai sumber kebenaran," tegas Jay Penske, CEO Penske Media.
Ia menyatakan bahwa tindakan Google telah mengancam masa depan jurnalisme digital dan integritas media secara luas.
Lebih jauh dalam gugatan, PMC menyebut Google menyalahgunakan dominasinya di pasar pencarian daring untuk memaksa penerbit seperti PMC menyetujui syarat-syarat sepihak. Misalnya, Google mulai mengaitkan akses terhadap lalu lintas pencarian dengan izin penggunaan konten untuk fitur-fitur AI mereka, sesuatu yang menurut PMC tidak pernah disetujui.
"Google kini mewajibkan penerbit untuk menyediakan kontennya untuk penggunaan lain di luar hasil pencarian, dan satu-satunya cara untuk keluar dari sistem ini adalah dengan sepenuhnya keluar dari Google Search," tulis PMC dalam dokumen gugatan.
Langkah tersebut, menurut mereka, akan menjadi "bencana besar" bagi visibilitas media digital.
PMC juga menyebut bahwa sejak hadirnya fitur AI Overviews, mereka mengalami penurunan lalu lintas dari hasil pencarian Google. Penurunan itu berdampak langsung terhadap pendapatan iklan dan keterlibatan pengguna, dua elemen utama dalam bisnis media digital.
Menanggapi tuduhan tersebut, juru bicara Google, Jose Castaneda, menyatakan bahwa fitur Ringkasan AI justru dirancang untuk membuat pencarian lebih berguna dan menciptakan peluang baru bagi situs-situs untuk ditemukan.
"Setiap hari, Google mengirimkan miliaran klik ke situs-situs di seluruh web, dan AI Overviews justru mengirimkan lalu lintas ke lebih banyak situs," ujarnya. Google juga menyatakan siap melawan gugatan dan menyebut klaim PMC sebagai tidak berdasar.
Namun, PMC membalas bahwa Google tidak memberikan transparansi tentang data lalu lintas rujukan mereka. Dengan kata lain, penerbit kesulitan untuk memverifikasi klaim Google soal peningkatan lalu lintas dari fitur Ringkasan AI.
Gugatan dari PMC ini memperpanjang daftar konflik antara raksasa teknologi dan dunia penerbitan. Sebelumnya, beberapa media besar, penulis, dan fotografer juga menggugat perusahaan AI atas penggunaan konten mereka tanpa izin untuk melatih model kecerdasan buatan.
Tak hanya di Amerika Serikat, Google juga menghadapi gugatan serupa di Eropa. Di wilayah tersebut, gugatan lebih menitikberatkan pada dugaan pelanggaran antimonopoli karena dominasi Google di pasar pencarian dan AI.
Meski Google sebelumnya berhasil terhindar dari pemecahan bisnis dalam kasus antimonopoli di AS, gugatan baru seperti yang diajukan PMC menunjukkan bahwa tensi antara teknologi dan media masih terus memanas, terutama di era AI yang terus berkembang cepat, sementara regulasi belum mampu mengimbangi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!