Sofia Gubaidulina, Pencipta Simfoni Kebebasan, Meninggal Dunia di Usia 93 Tahun
JAKARTA, GENVOICE.ID - Komposer avant-garde legendaris sekaligus pencipta simfoni kebebasan, Sofia Gubaidulina, telah meninggal dunia di Jerman pada usia 93 tahun.
Dilansir dari BBC International, ia menghabiskan lebih dari tiga dekade terakhir di negara tersebut setelah runtuhnya Uni Soviet.
Nama Gubaidulina masuk dalam daftar hitam Soviet pada 1979, tetapi karyanya akhirnya dikenal luas di Barat. Ia dipuji karena keberaniannya memadukan musik modern dengan tema spiritual dan religius, menjadikannya salah satu komposer paling berpengaruh di abad ke-20.
Lahir pada Oktober 1931 di Chistopol, Tatarstan, dalam keluarga Rusia-Tatar, Gubaidulina sejak kecil menunjukkan bakat musiknya. Keluarganya pindah ke Kazan, tempat ia mempelajari musik sebelum akhirnya melanjutkan studinya di Konservatorium Moskow pada 1954.
Di sana, ia diperkenalkan pada karya-karya Mahler, Stravinsky, dan Schoenberg oleh Nikolai Peïko, mantan asisten Dmitry Shostakovich. Shostakovich sendiri melihat potensi besar dalam dirinya dan memberikan dorongan untuk mengikuti jalan artistik yang "tidak konvensional".
Namun, gaya eksperimental Gubaidulina dianggap menyalahi norma Soviet, dan banyak karyanya dilarang pada 1960-an dan 1970-an. Ia menjadi salah satu dari tiga komposer avant-garde Rusia yang dihukum rezim, bersama Alfred Schnittke dan Edison Denisov.
Hidup Gubaidulina berubah secara tak terduga ketika ia berbagi taksi dengan pemain biola Gidon Kremer di Moskow pada akhir 1970-an. Kremer memintanya untuk menulis sebuah konser biola, yang kemudian melahirkan karya Offertorium, sebuah komposisi yang mengadaptasi tema dari Bach.
Ketika Kremer membawakan Offertorium di Wina pada 1981, dunia musik internasional mulai mengenal Gubaidulina. Alfred Schnittke bahkan memuji karyanya sebagai "mungkin konser biola paling penting di abad ke-20".
Meskipun mulai mendapatkan pengakuan di luar negeri, Gubaidulina tetap mendapat tekanan di tanah kelahirannya. Uni Soviet secara resmi memasukkannya ke dalam daftar hitam pada 1979, menuduhnya menciptakan musik yang dianggap "tidak berarti dan penuh kebisingan". Namun, pada 1984, ia akhirnya diizinkan bepergian ke Barat untuk menghadiri festival di Finlandia.
Ketika Uni Soviet runtuh pada 1991, Gubaidulina memilih menetap di sebuah desa kecil di Appen, dekat Hamburg, Jerman.
Dirigen ternama Sir Simon Rattle menggambarkan Gubaidulina sebagai seorang "pertapa yang terbang", yang selalu berada di orbitnya sendiri dan hanya sesekali turun ke bumi.
Ia sendiri pernah berkata, "Sangat menggoda untuk menetapkan aturan, tetapi aturan itu akan dengan cepat menjadi usang."
Karya-karyanya diprediksi akan terus menginspirasi generasi mendatang.
0 Comments





- Komnas Pengendalian Tembakau Desak Garuda Indonesia Blacklist Penumpang yang Merokok Elektrik di Pesawat
- David Frost vs": Menghidupkan Kembali Wawancara Legendaris yang Mengubah Sejarah
- Terungkap! Guru Sekolah Dasar di Korea Selatan Akui Bunuh Muridnya
- Apakah Senyawa dalam Brokoli Sprout Bisa Turunkan Gula Darah? Cari Tau Jawabannya di Sini!
- Teknologi AI Ciptakan Penangkal Bisa Ular yang Lebih Cepat, Murah, dan Efektif
- Waspada Diare Saat Puasa, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
- Ancaman Baru di Era Digital: Bisakah Komputer Kuantum Membobol Enkripsi Dunia?
- Sean Baker Raih Penghargaan Tertinggi untuk 'Anora' pada DGA Awards
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!