Film Dokumenter Michael Jackson Memancing Kontroversi yang Tak Berujung
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sejak merilis film dokumenter "Leaving Neverland" pada 2019, sutradara Dan Reed terus menerima ancaman, terutama dari para penggemar Michael Jackson. Film yang menampilkan kesaksian Wade Robson dan James Safechuck tentang dugaan pelecehan seksual yang mereka alami dari Jackson ketika masih anak-anak ini memicu kontroversi besar. Kini, Reed kembali dengan sekuel berjudul "Leaving Neverland 2: Surviving Michael Jackson", yang mengeksplorasi dampak dari film pertamanya dan bagaimana korban kembali menghadapi tekanan setelah berbicara.
Dalam wawancara di kantornya yang lokasinya dirahasiakan, Reed mengungkapkan bahwa ia telah menerima ancaman berkali-kali. "Aku pernah diburu oleh pembunuh. Aku pernah diancam ditembak oleh orang bersenjata," katanya. Ancaman ini bukan hanya berbentuk pesan di internet, tetapi juga upaya untuk menemukan alamat rumahnya. "Kalau seseorang mencoba mencari alamatku untuk mengirim sesuatu, aku anggap serius. Tapi kalau cuma email dari luar negeri, aku tidak terlalu peduli," tambahnya, dikutip dariThe Guardian, Sabtu (15/3).
"Leaving Neverland" menceritakan bagaimana Robson dan Safechuck, yang saat itu masih anak-anak, diduga mengalami pelecehan seksual oleh Jackson. Menurut mereka, Jackson memiliki pola yang berulang: mendekati anak laki-laki berusia tujuh atau delapan tahun, menjalin hubungan yang menyerupai pacaran, lalu menggantinya dengan anak lain setahun kemudian.
Reed menjelaskan bahwa film ini bukan tentang ketenaran Jackson, melainkan tentang bagaimana proses grooming atau manipulasi bisa terjadi. "Ketika seorang anak menjadi korban predator, mereka punya kesepakatan rahasia dengan pelaku. Anak itu terlihat senang, seperti remaja yang sedang jatuh cinta. Itu sebabnya aku meminta Wade dan James untuk jujur, mereka harus mengakui bahwa awalnya, semua ini terasa 'menyenangkan.' Sampai akhirnya berubah menjadi mimpi buruk."
Film terbaru, "Leaving Neverland 2: Surviving Michael Jackson", menyoroti bagaimana para korban kembali menjadi sasaran setelah berbicara. Mereka mengalami tekanan, serangan dari media, serta tuduhan bahwa mereka hanya mengincar uang. Selain itu, film ini juga mengungkap bagaimana tim pengacara keluarga Jackson berusaha keras mencegah kasus ini dibawa ke pengadilan. "Kami harus jujur sepenuhnya. Ini adalah pelecehan seksual, bukan sekadar kasih sayang yang keliru," kata Reed, menegaskan pendekatan yang ia ambil dalam pembuatan film.
Reed menanggapi berbagai pembelaan terhadap Jackson, termasuk anggapan bahwa Jackson tidak memiliki masa kecil sehingga wajar jika ia dekat dengan anak-anak. "Apa hubungannya? Tidak punya masa kecil bukan alasan untuk melecehkan anak-anak," katanya. Ia juga membantah tuduhan bahwa Robson dan Safechuck hanya mengincar uang. Menurutnya, setelah "Leaving Neverland" dirilis, lima orang lainnya juga mengaku sebagai korban Jackson, dan beberapa dari mereka menerima penyelesaian hukum dengan jumlah besar dari pihak keluarga Jackson.
Di sisi lain, film ini mendapat banyak perlawanan dari para penggemar fanatik Jackson. Reed menyebut mereka sebagai kelompok yang lebih mementingkan idolanya dibanding fakta yang ada. "Mereka tidak peduli dengan kebenaran. Mereka hanya ingin terus memuja Michael Jackson. Ini seperti sekte," katanya.
Reed juga menyadari bahwa di era digital, misinformasi semakin mudah menyebar. "Sekarang banyak orang mendapatkan informasi dari internet, dan di sana mereka sering bilang, 'Kamu tahu kan, "Leaving Neverland" sudah terbukti salah?'" Namun, menurut Reed, banyak dari mereka sebenarnya tidak tertarik dengan kebenaran dan hanya mencari pembenaran untuk terus mendukung Jackson.
Dalam beberapa tahun terakhir, Reed juga mengerjakan dokumenter lain yang membahas penyebaran disinformasi, termasuk "The Truth vs Alex Jones", yang menggambarkan bagaimana teori konspirasi dan kebohongan bisa dimonetisasi. Ia juga membuat "Stopping the Steal", yang menyoroti klaim kecurangan pemilu oleh Donald Trump. Dalam prosesnya, Reed kembali menemukan bagaimana tuduhan pelecehan seksual sering dijadikan senjata politik, meskipun tanpa dasar yang jelas.
Di tengah kontroversi yang masih berlangsung, Reed tetap teguh pada pendiriannya. "Jika aku menangis setiap kali ada disinformasi tentang "Leaving Neverland", aku sudah menjadi debu di lantai," katanya. Bagi Reed, dokumenter ini bukan hanya tentang Michael Jackson, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat menghadapi kebenaran yang tidak nyaman dan harga yang harus dibayar oleh mereka yang berani berbicara.
0 Comments





- Red Bull Ganti Lawson dengan Tsunoda, Keputusan Strategis atau Tindakan Panik?
- Taylor Swift Terlihat Memberikan Uang Tip Secara Langsung Kepada Pekerja di Grammy
- Angelina Jolie Jelaskan Mengapa Anak Perempuannya Tidak Tertarik dengan Ketenaran
- SEVENTEEN Siapkan Album Penuh untuk Rayakan 10 Tahun Debut
- Rusia dan Ukraina Sepakat Hentikan Penggunaan Kekuatan di Laut Hitam
- Pembuat Serial "Shogun" Beri Bocoran Mengenai Musim Keduanya
- Noah Cyrus Puji Lagu Baru Billy Ray Cyrus di Tengah Konflik Keluarga
- Adidas dan Mercedes-AMG PETRONAS F1 Rilis Koleksi Pertama
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!