Travel Umrah Indonesia Boncos Imbas Konflik Houthi-Saudi, Biaya Hotel hingga Visa Terancam Hangus
Pembatalan dan penjadwalan ulang penerbangan menuju Arab Saudi membuat penyelenggara umrah menghadapi kerugian. Margin keuntungan yang hanya 4-8 persen dinilai tak cukup menutup biaya yang hilang.
JAKARTA, GENVOICE.ID - Konflik yang melibatkan kelompok Houthi dan Arab Saudi mulai berdampak pada perjalanan ibadah umrah dari Indonesia. Dalam dua hari terakhir, sejumlah penerbangan menuju Jeddah dan Madinah dilaporkan mengalami pembatalan massal sehingga memicu kerugian bagi biro perjalanan umrah.
Ketua Umum Sarikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (Sapuhi), Syam Resfiadi, mengatakan penerbangan yang menggunakan rute transit di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu yang paling terdampak. Sejumlah maskapai memilih membatalkan penerbangan atau menjadwalkan ulang keberangkatan hingga tahun depan dengan mempertimbangkan faktor keamanan.
"Untuk pesawat yang transit sudah banyak yang memang membatalkan atau akan me-reschedule penerbangannya untuk tahun depan, tidak lagi di tahun ini," ujar Syam pada Rabu (14/10/2026).
Penerbangan Langsung Masih Beroperasi
Di tengah situasi yang memanas, penerbangan langsung menuju Arab Saudi masih dilaporkan beroperasi. Syam menyebut Garuda Indonesia dan Saudia Airlines masih melayani rute Jakarta-Jeddah maupun Jakarta-Madinah, meskipun jadwal penerbangan mengalami keterlambatan.
Syam mencontohkan pengalaman rombongan jemaah yang baru kembali dari Jeddah pada sehari sebelumnya. Penerbangan tersebut mengalami keterlambatan selama sekitar lima hingga delapan jam, tetapi para jemaah masih dapat menerima kondisi tersebut.
"Kemarin baru saja grup kami pulang dari Jeddah dan tiba malam hari. Walaupun harus delay beberapa jam, kurang lebih 5-8 jam, tetapi masih bisa ditoleransi oleh jemaahnya," tambahnya.
Sementara itu, maskapai yang menggunakan jalur transit, seperti Emirates, Etihad, dan Qatar Airways, disebut mengambil langkah lebih berhati-hati dengan menghindari rute yang dinilai berisiko. Rute Dubai-Jeddah dan Doha-Jeddah termasuk yang terdampak, meskipun penerbangan internasional menuju Indonesia melalui Denpasar dilaporkan masih ramai.
Biaya Hotel, Transportasi, dan Visa Terancam Hangus
Pembatalan penerbangan menimbulkan persoalan baru bagi penyelenggara umrah karena sejumlah kebutuhan perjalanan sudah dibayar lebih awal. Biaya hotel, transportasi, dan visa di Arab Saudi berpotensi tidak dapat dikembalikan apabila layanan tidak digunakan sesuai jadwal.
Syam menjelaskan, kondisi tersebut dapat dikategorikan sebagai force majeure atau keadaan kahar, yakni situasi di luar kendali penyelenggara perjalanan. Menurutnya, penyedia layanan di Arab Saudi tidak menganggap kondisi tersebut sebagai penutupan resmi akses umrah oleh pemerintah setempat, sehingga pembatalan dari pihak luar dapat menimbulkan persoalan biaya.
"Hotel, transport, visa yang sudah ada itu kalau terlalu lama sudah keadaan luar biasa dan tidak bisa dipakai lagi. Harus apply ulang dan itu biaya lagi semua," urai Syam.
Masalahnya, biaya yang sudah dikeluarkan belum tentu bisa dialihkan ke jadwal keberangkatan baru. Jika masa berlaku layanan atau dokumen sudah berakhir, penyelenggara bisa kembali mengeluarkan biaya untuk melakukan pemesanan dan pengurusan ulang.
Margin Keuntungan Travel Hanya 4-8 Persen
Besarnya potensi kerugian menjadi persoalan serius karena margin keuntungan biro perjalanan umrah relatif terbatas. Syam menyebut keuntungan penyelenggara umumnya hanya berkisar 4 hingga 8 persen dari harga paket perjalanan.
Margin tersebut dinilai tidak cukup untuk menutup biaya layanan yang hangus akibat pembatalan atau biaya tambahan ketika jadwal keberangkatan harus diatur kembali. Kondisi ini membuat penyelenggara berpotensi menanggung beban finansial di luar perhitungan awal paket umrah.
Kerugian juga dapat berlanjut apabila penjadwalan ulang berlangsung hingga tahun depan. Penyelenggara perlu berkoordinasi dengan maskapai dan penyedia layanan di Arab Saudi untuk memastikan apakah pemesanan lama masih dapat digunakan atau harus diganti dengan pemesanan baru.
Sapuhi Minta Jemaah Memahami Situasi
Menghadapi situasi tersebut, Sapuhi meminta jemaah umrah memahami bahwa pembatalan dan penjadwalan ulang penerbangan dapat terjadi akibat kondisi keamanan regional. Syam menegaskan, penyelenggara tidak menginginkan gangguan tersebut dan perlu mencari solusi bersama agar perjalanan jemaah dapat dilanjutkan dengan mempertimbangkan kondisi yang memungkinkan.
Terkait asuransi perjalanan, Syam menjelaskan bahwa perlindungan yang tersedia umumnya mencakup keterlambatan atau pembatalan ketika jemaah masih berada di Indonesia. Manfaatnya dapat berupa penggantian biaya hotel atau transportasi untuk kembali ke daerah asal, tetapi belum tentu mampu menutup seluruh biaya paket yang telah dibayarkan untuk layanan di Arab Saudi.
Karena itu, keberangkatan berikutnya mungkin memerlukan pembahasan ulang mengenai biaya, terutama jika hotel, transportasi, atau dokumen perjalanan harus dipesan kembali. Besaran biaya tambahan akan bergantung pada kondisi pemesanan sebelumnya dan kesepakatan dengan penyedia layanan.
"Mohon diterima sebagai force majeure. Kami sebagai penyelenggara tidak menginginkan hal seperti ini. Jika nanti ada keberangkatan lebih lanjut, tentu perlu didiskusikan kembali mengenai kebutuhan biaya baru," pungkasnya.
Gangguan penerbangan akibat konflik regional tidak hanya berdampak pada jadwal perjalanan jemaah, tetapi juga pada keberlangsungan operasional biro umrah. Koordinasi antara penyelenggara, maskapai, penyedia layanan di Arab Saudi, dan jemaah menjadi penting untuk mencari penyelesaian atas pembatalan maupun penjadwalan ulang keberangkatan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!