Belajar dari MotoGP Mandalika 2025: Antusiasme Tinggi, Tapi Masih Banyak yang Harus Dibenahi
JAKARTA, GENVOICE.ID - Euforia MotoGP Mandalika 2025 di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, kembali menegaskan posisi Indonesia di peta olahraga dunia. Selama tiga hari penyelenggaraan, dari 3 hingga 5 Oktober 2025, ajang ini mencatat rekor baru dengan 140.324 penonton, meningkat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Keterlibatan masyarakat lokal dan sentuhan budaya Nusantara membuat gelaran kali ini terasa lebih hidup. Namun di balik kesuksesan tersebut, sejumlah catatan penting muncul sebagai bahan evaluasi untuk MotoGP Mandalika 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 9-11 Oktober tahun depan.
Zefanya Andryan Girsang, akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram, menilai promosi digital MotoGP Mandalika sudah menarik secara visual, tetapi belum cukup interaktif. "Banyak penonton hanya melihat konten tanpa ikut terlibat melalui like, komentar, atau share," ujarnya. Ia menyarankan penerapan strategi engagement marketing seperti kuis, tantangan, atau konten buatan pengguna agar kampanye digital terasa lebih hidup dan melibatkan audiens secara aktif.
Selain promosi, infrastruktur dan layanan publik juga menjadi sorotan. Akses menuju lokasi acara dinilai belum efisien. Jalur dari area parkir ke sirkuit sering kali menimbulkan antrean panjang akibat manajemen bus antarjemput yang belum optimal. Bahkan penonton VIP sempat terjebak macet hingga dua jam saat hendak keluar dari arena.
Masalah lain datang dari fasilitas penonton, seperti jumlah toilet yang terbatas dan kondisi tribun yang belum terlindung dari panas ekstrem. Dengan suhu udara mencapai 35 derajat Celcius dan suhu lintasan hingga 52 derajat, kebutuhan akan atap peneduh dan area hijau di sekitar sirkuit menjadi semakin mendesak.
Dari sisi layanan, pelatihan terpadu bagi petugas dan relawan dinilai penting agar mereka memahami standar layanan internasional. Kualitas pelayanan, terutama dalam menghadapi keluhan pengunjung, akan sangat menentukan citra profesional Indonesia di mata dunia.
Konektivitas digital juga menjadi masalah yang belum terselesaikan. Jaringan internet di area sirkuit sering kali lambat akibat tingginya lalu lintas data. Solusinya, penyelenggara disarankan bekerja sama dengan operator seluler untuk menambah menara BTS sementara selama acara berlangsung.
Untuk memperkuat evaluasi, penyelenggara juga perlu menyediakan survei digital pasca acara melalui QR code pada tiket atau gelang masuk. Data dari survei tersebut bisa menjadi dasar peningkatan kualitas penyelenggaraan di masa depan.
MotoGP Mandalika 2025 jelas menunjukkan potensi besar Indonesia sebagai tuan rumah ajang balap dunia. Namun, agar edisi 2026 lebih berkelas, penyelenggara harus berani berbenah - dari sisi akses, fasilitas, layanan, hingga keterlibatan digital - demi menciptakan pengalaman menonton yang benar-benar tak terlupakan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!