Kodak Terancam Tutup Setelah 133 Tahun, Utang Menggunung Rp 8 Triliun!

Kodak Terancam Tutup Setelah 133 Tahun, Utang Menggunung Rp 8 Triliun!
- (Dok. democratandchronicle).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Gen, siapa sih yang nggak kenal Kodak? Nama yang dulu jadi simbol dunia fotografi ini sekarang justru lagi di ujung tanduk. Setelah lebih dari satu abad beroperasi, perusahaan asal Amerika Serikat itu kabarnya sedang kelimpungan membayar utang yang jumlahnya bikin pusing-sekitar Rp 8 triliun!

Kabar kurang sedap ini disampaikan langsung ke para investornya. Kodak mengaku nggak punya lagi dana untuk melunasi utang sebesar US$ 500 juta. Dalam dokumen resminya, mereka bahkan menyebut ada "keraguan substansial" soal kemampuan perusahaan untuk tetap beroperasi.

Untuk bertahan, Kodak mulai ambil langkah-langkah ekstrem, salah satunya menghentikan pembayaran program pensiun. Meski begitu, bisnis mereka yang berbasis di AS seperti kamera, tinta, dan film, masih aman dari tarif impor karena semua diproduksi di dalam negeri.

Pihak perusahaan juga mencoba memberi harapan. "Kami yakin mampu melunasi sebagian besar pinjaman berjangka sebelum jatuh tempo, mengubah, memperpanjang atau membiayai kembali sisa utang dan atau kewajiban saham preferen," kata juru bicara Kodak.

Kalau ditarik ke belakang, Kodak berdiri resmi pada 1892. Namun pendirinya, George Eastman, sudah mulai mencatat sejarah sejak 1879 dengan paten pertamanya, lalu meluncurkan kamera Kodak pertama di tahun 1888 seharga US$ 25. Puncak kejayaannya ada di era 1970-an, ketika mereka menguasai 90% pasar film dan 85% penjualan kamera di Amerika Serikat.

Sayangnya, semua berubah ketika teknologi kamera digital mulai populer. Padahal, lucunya, kamera digital pertama justru diciptakan Kodak sendiri di 1975. Tapi mereka kalah cepat memanfaatkan tren, sehingga kompetitor lain lebih dulu menguasai pasar.

Kodak sebenarnya sudah pernah jatuh di tahun 2012, ketika mengajukan kebangkrutan dengan total utang US$ 6,75 miliar dan 100 ribu kreditur. Kini, setelah 133 tahun sejarah panjang, perusahaan legendaris ini kembali dihadapkan pada kenyataan pahit: bertahan atau tumbang.

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE