Raja Judi Online Asia Tenggara Akhirnya Tumbang: She Zhijiang Diekstradisi ke China, Berikut Adalah Rekam Jejaknya

Raja Judi Online Asia Tenggara Akhirnya Tumbang: She Zhijiang Diekstradisi ke China, Berikut Adalah Rekam Jejaknya
- (Dok. AFP/CHANAKARN LAOSARAKHAM).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Setelah buron lebih dari satu dekade, She Zhijiang, sosok yang dijuluki "Raja Judi Online Asia Tenggara", akhirnya dipulangkan ke China. Pria 43 tahun asal Hunan itu diekstradisi dari Thailand pada Rabu (12/11/2025) setelah pengadilan banding menguatkan keputusan untuk menyerahkannya ke pemerintah Beijing.

She ditangkap di Thailand pada 2022 atas permintaan Interpol. Ia dituduh menjadi otak di balik jaringan judi online ilegal (judol) dan penipuan siber (online scam) terbesar di Asia Tenggara. Jaringannya beroperasi lintas negara, dari Myanmar, Kamboja, hingga Filipina, dengan nilai transaksi yang disebut mencapai miliaran dolar.

Ekstradisi She dilakukan hanya beberapa hari sebelum kunjungan kenegaraan pertama Raja Thailand ke China, yang disebut sebagai simbol eratnya hubungan dua negara dalam upaya menumpas kejahatan digital lintas batas.

Lahir di desa miskin Provinsi Hunan pada 1982, She dikenal sebagai programer otodidak yang keluar sekolah sejak usia 14 tahun. Di usia muda, ia pindah ke Filipina dan mulai merintis bisnis judi online. Setelah sempat dipenjara di China pada 2014 karena kasus lotre ilegal, She justru memperluas bisnisnya ke luar negeri dan membangun jaringan baru di Asia Tenggara.

Nama She mencuat lewat proyek ambisiusnya, Kota Shwe Kokko di Myanmar, kawasan yang awalnya dipromosikan sebagai "resor mewah" bagi wisatawan asal China. Namun, laporan investigatif membongkar bahwa wilayah itu justru menjadi markas besar aktivitas gelap, mulai dari online scam, pencucian uang, hingga perdagangan manusia.

Menurut laporan BBC, kawasan Shwe Kokko kini sepi wisatawan dan lebih dikenal sebagai pusat penipuan digital yang dioperasikan secara terselubuh. Beberapa warga setempat mengaku aktivitas ilegal masih terjadi di balik dinding-dinding kompleks mewah tersebut.

She dan perusahaannya, Yatai International Holdings Group, telah masuk dalam daftar sanksi Amerika Serikat dan Inggris karena dianggap terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia terkait operasional kota itu. Dalam wawancara dengan BBC awal 2025, She membantah tuduhan tersebut dan mengklaim perusahaannya tidak pernah mendukung praktik penipuan. Namun, ia mengakui kemungkinan adanya "oknum" yang menyusup karena Shwe Kokko terbuka untuk siapa saja.

PBB memperkirakan ratusan ribu orang menjadi korban jebakan pusat-pusat penipuan digital seperti yang dikendalikan She. Banyak dari mereka direkrut melalui tawaran kerja palsu, kemudian ditahan dan dipaksa melakukan penipuan daring. Mereka yang menolak dilaporkan mendapat hukuman fisik hingga penyiksaan.

Sebagian besar korban berasal dari China, yang membuat Beijing semakin agresif menindak kejahatan digital lintas negara. Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah China bahkan menjatuhkan hukuman mati kepada sejumlah pelaku utama jaringan penipuan serupa.

Kasus She Zhijiang kini menjadi simbol kejatuhan "kerajaan digital gelap" Asia Tenggara, sebuah dunia paralel di mana bisnis ilegal, judi online, dan eksploitasi manusia beroperasi di balik layar internet. Dengan ekstradisi ini, era kejayaan She tampaknya benar-benar berakhir.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE