Agar Anak Tak Kecanduan, Pakar UI Bagikan Cara Bijak Dampingi Anak Main Gim Online

Agar Anak Tak Kecanduan, Pakar UI Bagikan Cara Bijak Dampingi Anak Main Gim Online
- (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Pakar Budaya dan Komunikasi Digital Universitas Indonesia, Firman Kurniawan, mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak bermain gim online agar tetap sehat dan tidak berujung pada kecanduan.

Dilansir dari Antara, Firman menekankan bahwa orang tua perlu memahami dunia gim yang dimainkan anak, mulai dari apa yang membuatnya menarik, hingga bagaimana aktivitas tersebut memengaruhi kehidupan sosial anak.

"Pertama, orang tua perlu tahu apa sih daya tarik yang menyebabkan gim itu dibicarakan dan sering dimainkan oleh anak. Pada kelompok anak-anak memang ada peer pressure (tekanan dari teman sebaya), jadi terkadang anak ingin ikut main agar tidak merasa tertinggal. Orang tua boleh mengizinkan, tapi dengan catatan tetap mendampingi dan berdialog tentang tujuan bermain serta membuat kesepakatan durasi bermain," ujar Firman.

Ia menegaskan, pendampingan tidak cukup hanya dengan hadir secara fisik di dekat anak saat bermain gim. Orang tua perlu ikut terlibat secara emosional dan memahami konteks dari permainan tersebut agar anak tetap memiliki keseimbangan antara dunia digital dan aktivitas di dunia nyata.

Survei terbaru menunjukkan sekitar 55 persen anak dan remaja di Indonesia menghabiskan waktunya bermain gim online maupun offline melalui gawai. Fenomena ini, kata Firman, menjadi sinyal penting bagi orang tua untuk memastikan anak tetap memiliki waktu berinteraksi di luar layar.

Sebagai langkah preventif, pemerintah juga memperkenalkan Indonesia Game Rating System (IGRS), sistem klasifikasi gim nasional yang akan berlaku efektif mulai 2026. Sistem ini mewajibkan pengembang mencantumkan batasan usia pada setiap gim yang dirilis di Indonesia, dengan kategori 3+, 7+, 13+, 15+, dan 18+, agar anak hanya mengakses konten sesuai usianya.

Firman menilai kebijakan ini bisa membantu orang tua dalam memantau kebiasaan digital anak. Namun, ujarnya, aturan tidak akan berarti tanpa keterlibatan langsung dari keluarga.

"Peraturan seperti IGRS itu penting sebagai panduan, tapi yang paling penting tetap kesadaran dan kehadiran orang tua. Karena anak belajar paling banyak bukan dari larangan, melainkan dari teladan dan dialog," kata Firman menutup penjelasannya.

M
M Ihsan
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE