Tarif Transjakarta Bisa Gratis, Begini Hitungan Analis Soal Modal Dari Pajak Parkir Buat Warga Jakarta!

Tarif Transjakarta Bisa Gratis, Begini Hitungan Analis Soal Modal Dari Pajak Parkir Buat Warga Jakarta!
- (Dok. Antara).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Wacana soal layanan bus Transjakarta yang bisa dinikmati tanpa bayar sepeser pun alias gratis lagi jadi obrolan hangat di kalangan warga ibu kota nih, Gen. Bayangkan saja kalau setiap hari kita bisa keliling Jakarta pakai busway tanpa perlu pusing mikirin saldo kartu elektronik yang habis, pasti bakal ngebantu banget buat menghemat pengeluaran bulanan. Ide gokil ini datang dari seorang analis kebijakan transportasi ternama, Azas Tigor Nainggolan, yang ngerasa kalau hal ini bukan cuma mimpi di siang bolong asalkan pengelolaannya bener.

Menurut dia, Jakarta punya potensi besar buat ngebiayain operasional bus tanpa harus narik duit dari kantong penumpang, asalkan pemerintah berani maksimalin pendapatan dari sektor lain yang selama ini mungkin belum tergarap oke. Strategi ini dianggap sangat masuk akal karena transportasi umum sebenarnya adalah hak dasar setiap orang yang harus dijamin sama negara. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang lagi naik turun kayak sekarang, tarif gratis bisa jadi kado terindah buat masyarakat supaya daya beli tetap terjaga dan mobilitas di kota nggak terganggu sama masalah biaya, Gen.

Azas Tigor Nainggolan menjelaskan kalau kunci utama buat bikin Transjakarta jadi nol rupiah adalah dengan mengandalkan uang dari pengelolaan parkir dan bisnis sampingan di luar tiket. Dia punya hitungan yang cukup mencengangkan soal angka-angka yang bisa didapat dari jalanan Jakarta.

"Apabila pengelolaan parkir berhasil memberikan pendapatan maksimal dan bisnis non-tiket Transjakarta bagus, maka bisa memberikan pendapatan yang mampu membiayai sepenuhnya operasional Transjakarta, yang berarti warga Jakarta bisa gratis gunakan Transjakarta," ujar Tigor di Jakarta, Senin.

Modal Rp6 Triliun dari Lahan Parkir

Kalau dibedah lebih dalam, potensi duit dari pajak parkir di Jakarta itu bisa tembus angka Rp3 triliun. Nggak cuma itu, dari retribusi parkir saja potensinya juga ada di angka Rp3 triliun. Jadi kalau ditotal, Jakarta bisa dapet modal Rp6 triliun cuma dari urusan parkir doang. Angka ini pas banget sama estimasi biaya operasional Transjakarta buat tahun 2026 yang juga butuh sekitar Rp6 triliun.

"Jadi, untuk membiayai subsidi Transjakarta 2026 ini bisa diambil atau didapat dari pendapatan pengelolaan parkir Jakarta," kata Tigor. Tapi sayangnya, sampai sekarang pendapatan dari parkir ini kabarnya baru nyampe 50 persen dari target, jadi masih banyak PR yang harus dikerjain pemerintah.

Bisnis Non-Tiket yang Menggiurkan

Selain dari parkir, Transjakarta sebenarnya punya tambang emas lain yaitu bisnis komersial non-tiket atau istilah kerennya non-farebox. Karena penggunanya saja sudah lebih dari satu juta orang setiap harinya, area halte dan bus sebenarnya bisa jadi lahan iklan atau bisnis yang sangat potensial. Dengan jaringan layanan yang sangat luas, harusnya pendapatan dari sektor ini bisa sangat tinggi kalau dikelola dengan cara yang lebih kreatif dan modern.

Tigor juga ngingetin kalau subsidi transportasi itu bukan cuma soal bagi-bagi duit, tapi soal memenuhi kewajiban pemerintah buat ngelindungi hak rakyat. "Subsidi yang diberikan pemerintah bisa mengurangi tarif dan bahkan bisa hingga membuat tarif gratis," ungkap Tigor.

Sebagai info tambahan, buat tahun 2026 ini sebenarnya Transjakarta butuh subsidi sekitar Rp4,8 triliun biar layanannya tetap standar. Tapi di APBD 2026, Pemprov DKI baru masukin angka Rp3,7 triliun. Sisanya yang sekitar Rp1,1 triliun rencananya bakal dimasukin di anggaran perubahan. Untungnya, pemerintah sudah mutusin buat nggak naikin tarif dulu demi jagain kondisi ekonomi kita semua. Jadi, menurut kalian lebih pilih parkir mahal tapi bus gratis, atau tetap kayak sekarang saja, Gen?

Menurut Gen, apakah kalian setuju kalau tarif parkir kendaraan pribadi dinaikkan setinggi mungkin asalkan akses naik Transjakarta beneran jadi gratis buat semua orang?

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE