Anthonius Agung, Pahlawan di Balik Gempa Palu yang Selamatkan Nyawa Penumpang
Pahlawan Sejati di Balik Musibah Gempa Palu
JAKARTA, GENVOICE.ID - Masih ingat gempa Palu yang mengguncang Sulawesi Tengah pada 28 September 2018? Di balik tragedi itu, ada kisah heroik seorang petugas Air Traffic Control (ATC) AirNav Indonesia, Anthonius Gunawan Agung. Aksi beraninya lima tahun lalu berhasil menyelamatkan puluhan nyawa di pesawat Batik Air ID 6231.
Anthonius, yang saat itu baru berusia 22 tahun, menjadi pahlawan karena tidak meninggalkan posisinya di menara ATC meskipun gempa berkekuatan M 7,4 mengguncang Palu. Ia tetap fokus memandu pilot sampai pesawat lepas landas dengan aman. Setelah pesawat berhasil terbang, barulah ia bergegas menyelamatkan diri.
Sayangnya, saat mencoba turun, menara ATC di Bandara Mutiara Sis Al-Jufrie sudah mulai roboh. Demi menghindari reruntuhan, Anthonius terpaksa melompat dari lantai empat. Aksi heroik itu membuatnya mengalami luka parah, termasuk patah tulang.
Detik-Detik Heroik di Tengah Gempa
Menurut Manajer Humas AirNav Indonesia, Yohanes Sirait, Anthonius telah memberikan izin terbang (clearance) kepada pesawat Batik Air ID 6231 yang dipiloti oleh Captain Ricosetta Mafella. Saat gempa terjadi, Anthonius tetap berkomunikasi dengan Fella sampai pesawat Airbus A320 itu aman mengudara menuju Makassar.
"Anthonius telah memberikan clearance kepada Batik saat gempa terjadi," kata Yohanes. "Anthonius sebagai petugas ATC yang bertanggung jawab penuh dengan menyelamatkan pesawat beserta penumpangnya."
Perjuangan Terakhir Anthonius
Setelah melompat, Anthonius sempat dilarikan ke rumah sakit. Hasil rontgen menunjukkan ia mengalami luka dalam yang serius dan harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar.
AirNav sempat berusaha mendatangkan helikopter dari Balikpapan, tapi cuaca buruk membuat helikopter baru bisa terbang keesokan harinya. Sayangnya, Anthonius mengembuskan napas terakhir sebelum helikopter tiba.
Jenazah Anthonius kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang, Makassar, sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan luar biasanya.
Pengakuan Sang Pilot
Captain Ricosetta Mafella, pilot Batik Air ID 6231, juga menceritakan momen menegangkan saat itu. Ia mengaku sempat merasa aneh karena harus terburu-buru terbang.
Ketika pesawat mulai bergerak di landasan, ia merasakan getaran kuat yang membuat pesawatnya oleng ke kanan dan kiri, bukan getaran vertikal seperti biasa.
"Entah kenapa kayak diingetin harus buru-buru terbang," ujarnya.
Setelah berhasil lepas landas dan berada di ketinggian 2.000-3.000 kaki, Fella baru menyadari ada yang tidak beres. Ia melihat gelombang laut yang tidak biasa di pesisir Palu. Melalui radio, ia akhirnya tahu bahwa mereka adalah penerbangan terakhir yang berhasil take off dari Palu saat gempa terjadi.
Kisah Anthonius Gunawan Agung menjadi pengingat bagi kita semua tentang arti dedikasi dan pengorbanan. Ia adalah pahlawan sejati yang menempatkan keselamatan orang lain di atas keselamatannya sendiri.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!