Seberapa Berbahaya Hantavirus? Kasus di Indonesia hingga Ancaman Varian Andes

Seberapa Berbahaya Hantavirus? Kasus di Indonesia hingga Ancaman Varian Andes
- (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Wabah Hantavirus Pulmonary Syndrome kembali menjadi perhatian dunia setelah muncul kasus di kapal pesiar MV Hondius yang menyebabkan sejumlah korban meninggal dunia. Di tengah kekhawatiran global, pemerintah memastikan situasi di Indonesia masih terkendali meski kasus hantavirus memang pernah ditemukan di beberapa daerah.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan dua kasus suspek terbaru di Jakarta dan Yogyakarta telah dinyatakan negatif hantavirus dan pasien sudah sembuh.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan wabah, termasuk kemungkinan masuknya varian Andes yang menjadi sorotan dalam kasus MV Hondius.

Menurut Budi, Indonesia saat ini telah memiliki sistem skrining untuk mendeteksi hantavirus, termasuk penggunaan rapid test dan pemeriksaan PCR seperti saat pandemi COVID-19.

Kasus di kapal pesiar MV Hondius sendiri membuat sejumlah negara melakukan pelacakan penumpang dan awak kapal. Kapal yang berlayar dari Ushuaia itu diketahui membawa sekitar 150 penumpang dan kru dari 28 negara.

World Health Organization atau WHO melaporkan lima dari delapan kasus suspek telah terkonfirmasi positif. Tiga orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk warga Belanda dan Jerman.

Di Indonesia, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyebut terdapat 23 kasus hantavirus terkonfirmasi sepanjang 2024 hingga 2026 dengan tiga korban meninggal.

Kasus tersebut tersebar di sejumlah wilayah seperti Jakarta, Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, hingga Kalimantan Barat.

Epidemiolog Masdalina Pane menjelaskan hantavirus bukan penyakit baru di Indonesia. Namun, tidak semua jenis hantavirus berbahaya bagi manusia.

Menurutnya, varian paling ganas saat ini adalah Andes virus yang banyak ditemukan di kawasan Amerika Selatan. Varian tersebut memiliki tingkat kematian cukup tinggi dan berbeda dari tipe hantavirus yang umum ditemukan di Asia, termasuk Indonesia.

"Varian Andes bisa menular dari manusia ke manusia melalui kontak langsung," ujar Masdalina.

Sementara itu, tipe hantavirus di Indonesia umumnya menyebabkan Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS yang menyerang ginjal dan memicu gejala mirip demam berdarah.

Sebaliknya, varian Andes lebih berbahaya karena dapat menyerang paru-paru, jantung, dan pembuluh darah. Tingkat fatalitasnya disebut dapat mencapai 12 hingga 60 persen tergantung kondisi pasien dan kecepatan penanganan medis.

Meski demikian, Masdalina menilai penyebaran Andes virus tidak semudah COVID-19. Penularannya membutuhkan kontak erat dan intens, seperti hubungan fisik langsung atau kontak dengan cairan tubuh penderita.

Ia juga menegaskan keberadaan jenis tikus di Indonesia berbeda dengan reservoir alami Andes virus di Amerika Selatan. Namun mobilitas manusia tetap membuka peluang masuknya virus tersebut ke Indonesia.

Untuk mencegah penularan, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan tikus maupun kotorannya. Rumah yang bersih dan bebas sisa makanan dinilai penting untuk mencegah berkembangnya hewan pengerat pembawa virus.

Selain itu, pemerintah juga diminta memperkuat sistem surveilans dan pemeriksaan laboratorium, terutama terhadap pelaku perjalanan dari negara dengan kasus hantavirus tinggi.

D
Daniel R
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE