Empat Infeksi Paru Berbahaya Jadi Sorotan, Masyarakat Diminta Lebih Waspada

Empat Infeksi Paru Berbahaya Jadi Sorotan, Masyarakat Diminta Lebih Waspada
Ilustrasi infeksi paru. - (Dok. Freepik).

JAKARTA, GENVOICE.ID-Ancaman penyakit infeksi paru-paru belum sepenuhnya reda. Di tengah mobilitas masyarakat yang kembali padat, sejumlah penyakit justru menunjukkan tren yang perlu dicermati lebih serius. Para ahli mengingatkan, kewaspadaan bukan untuk menimbulkan panik, tapi agar respons bisa lebih cepat dan tepat.

Dilansir dari ANTARA, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof. Tjandra Yoga Aditama menegaskan pentingnya peningkatan kewaspadaan terhadap empat penyakit infeksi paru-paru berat. Pernyataan ini merujuk pada laporan Disease Outbreak News World Health Organization (WHO) periode Desember 2025 serta Januari hingga Februari 2026.

Salah satu penyakit yang perlu mendapat perhatian adalah infeksi virus Nipah. Menurut Prof. Tjandra, virus ini dapat menular ke manusia melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi. Infeksi Nipah berisiko menimbulkan pneumonia atipikal yang dapat berkembang menjadi penyakit paru berat hingga acute respiratory distress. Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan, terutama dalam deteksi dini.

Selain itu, Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS CoV) juga masuk dalam daftar penyakit yang mesti diwaspadai. Berdasarkan laporan WHO pada Desember 2025, tercatat 17 kasus MERS CoV muncul di Arab Saudi sepanjang 2025. Prof. Tjandra menyebut, situasi ini relevan bagi Indonesia mengingat tingginya jumlah jamaah umrah serta persiapan menghadapi musim haji. Mobilitas lintas negara menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Penyakit berikutnya adalah Super Flu, yang disebabkan oleh virus influenza A H3N2 subclade K. Pemerintah Kota Tokyo di Jepang bahkan kembali mengeluarkan Influenza Advisory untuk pertama kalinya dalam 17 tahun akibat lonjakan penularan. Peningkatan kasus Influenza B juga dilaporkan terjadi di Korea dan Jepang pada awal Februari 2026, serta di Amerika Serikat. "Pada kenyataannya ada juga kasus di negara kita karena Influenza B ini," kata Prof. Tjandra.

Sementara itu, Avian Influenza atau flu burung masih menunjukkan tingkat fatalitas yang tinggi. Prof. Tjandra menyampaikan bahwa selama 2023-2025, angka kematian akibat flu burung di enam negara di bawah WHO Western Pacific Office (WPRO) mencapai 66,3 persen. Indonesia termasuk negara dengan angka kematian tinggi, yakni 84 persen. Virus flu burung yang beredar di wilayah WPRO antara lain H3N8, H7N4, H7N9, H9N2, H10N3, dan H10N5. Data WHO WPRO per Januari 2026 mencatat, kasus flu burung terakhir dilaporkan muncul di Kamboja pada 2025.

Prof. Tjandra menekankan, peningkatan surveilans terhadap virus infeksi paru dan saluran napas perlu terus dilakukan agar situasi bisa dikenali sejak awal dan ditangani dengan baik. Di tengah dinamika kesehatan global yang cepat berubah, kewaspadaan menjadi langkah realistis untuk melindungi masyarakat secara lebih luas.

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE