Bahaya Mi Instan bagi Remaja, Kenali Risiko Penyakit Serius Jika Nekat Makan Berlebihan!

Bahaya Mi Instan bagi Remaja, Kenali Risiko Penyakit Serius Jika Nekat Makan Berlebihan!
- (Dok. Freepik).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Siapa sih yang bisa nolak godaan semangkuk mi instan, apalagi kalau cuaca lagi mendung atau hujan deras? Rasanya yang gurih, cara masaknya yang sat-set, plus harganya yang sangat bersahabat sama kantong pelajar emang bikin makanan ini jadi andalan nomor satu. Tapi, di balik kenyamanan dan kelezatan bumbu micinnya itu, ada rahasia kesehatan yang bener-bener harus kamu perhatikan, Gen. Kalau kamu tipe yang bisa makan mi instan berkali-kali dalam seminggu atau bahkan menjadikannya menu harian, kamu wajib tahu kalau tubuhmu sebenarnya lagi berjuang keras menghadapi gempuran zat yang bisa memicu penyakit jangka panjang. Jangan sampai hobi makan enak di masa muda malah jadi penyesalan saat masuk usia dewasa nanti.

Pakar kesehatan dan ahli gizi dari Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI), Diah Maunah, mengingatkan kalau mi instan itu sebenarnya nggak dilarang total, tapi harus ada aturannya. Idealnya, makanan ini cuma dianggap sebagai hidangan rekreasi yang dimakan sesekali saja buat memenuhi keinginan lidah. Diah menyarankan agar frekuensi makannya sangat dibatasi, misalnya cuma sebulan sekali sebagai perayaan kecil di hari spesial. "Mi instan merupakan jenis makanan yang aman dikonsumsi jika kita paham bagaimana batasan porsi dan cara pengolahan yang tepat sesuai dengan kondisi tubuh kita. Mi instan pada umumnya cenderung tinggi natrium, dan lemak, serta energi. Misal dikonsumsi hanya pada saat tanggal lahir kita sehingga 1 bulan 1 kali saja," ujar Diah dilansir dari ANTARA.

Kandungan Garam yang Bikin Tubuh Terancam

Masalah utama dari sebungkus mi instan, terutama yang varian kuah, adalah kandungan natrium atau garamnya yang sangat tinggi. Bayangkan saja, dalam satu porsi mi kuah, kandungan natriumnya bisa menembus angka 1.000 miligram lebih. Padahal, jatah harian garam buat orang dewasa itu terbatas. Kalau kamu makan satu porsi saja, itu sudah memenuhi sekitar 75 persen kebutuhan harianmu. "Jika kita ada hipertensi atau sensitif terhadap natrium maka tidaklah tepat mengonsumsi mi instan ini karena jatah natriumnya akan habis hanya dengan konsumsi satu bungkus mi kuah instan. Kebutuhan natrium seseorang dengan hipertensi maksimal adalah 1.200 miligram, di mi kuah instan antara 1000-1100 milligram per saji," jelas Diah.

Kandungan garam yang berlebih ini nggak main-main dampaknya, Gen. Jika kebiasaan ini terus berlanjut, pembuluh darah kamu bisa rusak, tekanan darah naik (hipertensi), hingga berujung pada gangguan ginjal yang serius. Selain itu, mi instan yang tinggi lemak dan kalori tapi rendah serat juga bisa memicu obesitas yang jadi pintu masuk berbagai penyakit degeneratif lainnya.

Risiko Ambeien hingga Kanker Usus pada Remaja

Buat kamu yang masih remaja, jangan merasa kebal sama penyakit ya. Ternyata, pola makan mi instan yang terlalu sering bisa berdampak sangat buruk pada saluran pencernaan. Karena mi instan termasuk makanan yang sulit dicerna dan rendah serat, organ dalam kamu harus bekerja berkali-kali lipat lebih keras. Efeknya? Bisa muncul gangguan iritasi pada lambung dan usus. Bahkan, Diah Maunah menyebutkan kalau pada remaja sekarang sudah banyak ditemukan kasus hemoroid atau ambeien hingga risiko kanker usus gara-gara terlalu sering menjadikan mi instan sebagai menu rutin mingguan.

Jadi, intinya mi instan itu bukan musuh yang harus dijauhi selamanya, tapi jangan sampai jadi sahabat karib di meja makan setiap hari. Kalau emang lagi pengen banget, pastikan kamu mengimbanginya dengan tambahan sayuran hijau, sumber protein seperti telur, dan pastinya minum air putih yang banyak. Yuk, mulai sayang sama tubuh sendiri dari sekarang!

Mau aku kasih tips cara masak mi instan yang lebih sehat dan rendah natrium supaya kamu tetap aman saat pengen makan?

R
Reza Aditya
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE