Kunjungan 24 Jurnalis Dunia ke Xinjiang: ‘Kami Lihat Sendiri, Mereka Hidup Bahagia dan Harmonis'
JAKARTA, GENVOICE.ID - Sebanyak 24 jurnalis dari 23 negara berkesempatan menelusuri langsung kehidupan masyarakat dan kemajuan pembangunan di Daerah Otonom Uighur Xinjiang, China barat laut.
Dilansir dari Antara, tur media ini, yang berlangsung dari 30 Juni hingga 8 Juli 2025, digelar oleh Kantor Informasi Dewan Negara China, sebagai bagian dari upaya memperlihatkan wajah Xinjiang sebagai zona inti Sabuk Ekonomi Jalur Sutra di bawah inisiatif global Belt and Road Initiative (BRI).
Dalam kunjungan yang mencakup kota-kota besar seperti Urumqi, Turpan, dan Kashgar, para jurnalis diajak melihat dari dekat kehidupan masyarakat lintas etnis, pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi, hingga kekayaan budaya dan keagamaan yang dijaga dengan ketat.
Presiden surat kabar Times dari Niger, Zabeirou Souley, mengaku terkesan dengan pendekatan kontraterorisme di Xinjiang setelah menyaksikan dokumenter dan pameran khusus. Ia menilai bahwa negaranya bisa belajar dari strategi China dalam menjaga stabilitas tanpa mengorbankan kebebasan beragama. Setelah mengunjungi Masjid Id Kah dan Institut Islam Xinjiang, ia menegaskan bahwa masyarakat Muslim di sana menjalankan ibadah dengan bebas dan penuh ketenangan.
Kesan mendalam juga disampaikan Toshimichi Kitafuji, jurnalis dari Kyodo News Jepang, yang menyoroti kemajuan pesat di bidang teknologi pertanian dan manufaktur. Dari budi daya padi tahan salinitas, kapas berbasis drone, hingga sistem otomatisasi pabrik dengan AI, Xinjiang dinilai tengah berevolusi menjadi pusat pertumbuhan teknologi tinggi yang siap bersaing di panggung global.
"Sebagai pusat penting Jalur Sutra modern, Xinjiang memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi masa depan," ungkap Kitafuji.
Tak hanya kemajuan ekonomi, pesona budaya Xinjiang juga membuat banyak jurnalis takjub. Samia Boulahlib dari El Moudjahid, Aljazair, memuji pertunjukan seni tradisional di kota tua Kashgar yang dinilainya kaya akan nilai sejarah dan identitas budaya yang hidup. Ia menilai kekayaan budaya ini sebagai aset luar biasa bagi diplomasi budaya China.
Di wilayah Jiashi, para jurnalis menyaksikan langsung bagaimana perjuangan masyarakat selama puluhan tahun dalam mendapatkan akses air minum bersih kini telah membuahkan hasil nyata. Abdiqani Abdullahi Ahmed dari Kantor Berita Nasional Somalia mengatakan bahwa pengalaman itu membuka matanya terhadap keberhasilan konkret China dalam pengentasan kemiskinan absolut.
"Saya melihat semua ini dengan mata kepala sendiri. Semua orang di sini punya aktivitas dan mereka hidup bahagia," ujarnya dengan kagum.
Kunjungan ini menjadi bagian dari narasi tandingan terhadap berbagai pandangan negatif tentang Xinjiang yang berkembang di kancah internasional. Para jurnalis tidak hanya menyaksikan secara langsung, tetapi juga berinteraksi dengan masyarakat lokal, tokoh agama, pelaku usaha, dan seniman.
Dengan kemajuan pesat, keragaman etnis yang hidup berdampingan, dan dukungan infrastruktur BRI, Xinjiang kini bukan sekadar titik di peta Jalur Sutra, melainkan simbol kebangkitan regional China yang inklusif dan berkelanjutan.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!