Daftar 14 Zona Megathrust Mengintai Indonesia: BMKG dan Pakar Soroti Potensi Gempa Dahsyat dari Sumatera hingga Papua

Pemutakhiran Peta Gempa 2024 Catat Penambahan Segmen dan Kenaikan Proyeksi Magnitudo Maksimum

Daftar 14 Zona Megathrust Mengintai Indonesia: BMKG dan Pakar Soroti Potensi Gempa Dahsyat dari Sumatera hingga Papua
Ilustrasi megathrust Indonesia. - (Dok. Istimewa).

JAKARTA, GENVOICE.ID - Ancaman kebencanaan geologi dari zona megathrust di wilayah Indonesia kembali menjadi fokus perhatian tim ahli dan pakar seismologi. Berdasarkan pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia terbaru, jumlah segmen penunjaman lempeng yang menyimpan potensi gempa dahsyat kini tercatat sebanyak 14 segmen.

Peningkatan data ini mencerminkan hasil evaluasi komprehensif atas dinamika pergerakan lempeng tektonik serta kemajuan metode riset terkini guna memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi risiko gempa bumi serta tsunami di kawasan pesisir Nusantara.

Pembaruan Data Pemetaan dan Penambahan Segmen

Rincian 14 segmen megathrust dalam dokumen pemutakhiran tahun 2024 terdiri atas 11 segmen yang berada langsung di wilayah teritorial Indonesia dan 3 segmen yang berlokasi di perairan Filipina namun tergolong sebagai ancaman lintas batas (transboundary hazard).

Pemutakhiran data dari Peta Gempa 2017 (13 segmen) dan 2010 (11 segmen) ini mencakup penambahan segmen baru, seperti Megathrust Palung Cotabato di Filipina (potensi M8,3) yang berdekatan dengan Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Selain itu, terdapat penyesuaian kenaikan estimasi magnitudo maksimum ($M_{max}$) pada 7 segmen berdasarkan temuan geodesi dan catatan sejarah gempa.

Rincian Potensi Magnitudo Maksimum 14 Segmen Megathrust

1. Megathrust Aceh-Andaman (M9,2): Berdampak utama pada pesisir Aceh, Sumatera Utara, hingga Kepulauan Andaman.

2. Megathrust Jawa (M9,1): Berdampak utama pada seluruh bentangan pesisir selatan Pulau Jawa.

3. Megathrust Mentawai-Siberut (M8,9): Berdampak utama pada Sumatera Barat dan Kepulauan Mentawai.

4. Megathrust Mentawai-Pagai (M8,9): Berdampak utama pada Sumatera Barat dan pesisir Bengkulu (mengalami kenaikan proyeksi dari M8,5).

5. Megathrust Enggano (M8,9): Berdampak utama pada pesisir Bengkulu hingga Lampung.

6. Megathrust Jawa Bagian Barat (M8,9): Berdampak utama pada pesisir Banten dan Jawa Barat bagian selatan.

7. Megathrust Jawa Bagian Timur (M8,9): Berdampak utama pada pesisir Jawa Tengah hingga Jawa Timur bagian selatan.

8. Megathrust Sumba (M8,9): Berdampak utama pada kawasan Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

9. Megathrust Nias-Simeulue (M8,7): Berdampak utama pada pesisir Sumatera Utara dan Kepulauan Aceh.

10. Megathrust Sulawesi Utara (M8,5): Berdampak utama pada perairan Gorontalo dan Sulawesi Utara (mengalami kenaikan proyeksi dari M7,9).

11. Megathrust Palung Cotabato - Filipina (M8,3): Berdampak utama pada wilayah perbatasan utara, khususnya Kepulauan Talaud.

12. Megathrust Filipina Selatan - Filipina (M8,2): Berdampak utama pada perairan luar perbatasan utara Indonesia-Filipina.

13. Megathrust Filipina Tengah - Filipina (M8,1): Berdampak utama pada kawasan perbatasan utara Indonesia-Filipina.

14. Megathrust Batu (M7,8): Berdampak utama pada Kepulauan Batu dan sekitarnya di Sumatera Utara.

Fokus Pengawasan BMKG dan Fenomena Seismic Gap

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan perhatian serta pengawasan khusus terhadap tiga segmen utama, yaitu Mentawai-Siberut, Selat Sunda (bagian dari Jawa Bagian Barat), dan Sumba.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengonfirmasi bahwa ketiga zona tersebut dipantau secara intensif karena terdeteksi sudah lama tidak melepaskan akumulasi energi tektonik berskala besar.

Pakar dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menambahkan bahwa kondisi ini berkaitan dengan fenomena seismic gap, wilayah aktif gempa yang menurut perhitungan seharusnya sudah melepaskan energi, namun belum kunjung terjadi. Kendati demikian, Daryono mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik.

Fenomena seismic gap merupakan kalkulasi potensi jangka panjang, bukan perkiraan atau prediksi bahwa bencana dahsyat akan terjadi dalam waktu dekat. Penambahan jumlah segmen pada peta baru menunjukkan proses pemetaan yang makin detail dan akurat, bukan bertambahnya jumlah megathrust di bumi.

Dengan memanfaatkan pemetaan risiko ini sebagai acuan penataan ruang, penerapan standar bangunan tahan gempa, serta penguatan edukasi kesiapsiagaan warga di kawasan pesisir, potensi dampak krisis akibat aktivitas tektonik dapat diminimalkan secara efisien.

S
Sarah Ramadhani
Penulis

0 Comments

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kirim
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE